Daftar Tanya-Jawab

بسم الله الرحمن الرحيم

Silahkan kirim pertanyaan anda pada isian comment dibagian paling bawah. Sertakan juga email contact anda. Insya Allah pertanyaan yang masuk akan kami tanyakan langsung kepada ahlinya. Dan jawaban yang ditampilkan disini adalah pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum. Adapun pertanyaan yang sifatnya pribadi tidak kami tampilkan & akan kami kirimkan melalui email anda.

Bagi pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat dijawab, kami memohon maaf, dikarenakan keterbatasan ilmu dan waktu. Semoga Allah memudahkan kami semua untuk dapat menjawab masalah umat.

96 Comments Add your own

  • 1. arie  |  12/04/2012 at 5:08 pm

    asalamualaikum wr.wb
    abi ,,,,saya ingin tanya gimana hukum nya jika istri menuntut cerai kepada suaminya karena telah di ketaunya suami bermesraan dg perempuan lain yg saya liat sendiri foto” mesranya walau cuma lewat jaringan facebook,sementara jarak suami dan istri sangat jauh ,suami ada di taiwan sementara istri ada di hongkong,,,,saya sangat kecewa dg sikap suami saya krn keberangkatannya ke taiwan dia minta saya carikan pinjaman uang di bank hongkong yg katanya akan di bantu pembayarannya ,yg sampe sekarang tak juga di bantu bahkan no tlp aja saya tdk di kasih,,,dia tdk pernah pedulikan saya lagi,,,,bahkan secara tak sengaja saya temukan suami saya yg upload foto bermesraan dg wanita lain di facebook melihat keadaan itu saya sangat terluka,,,,abi jika saya menuntut cerai apakah saya berdosa,,,,apa yg saya harus lakukan,,,,

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah tidak mengapa. Bahkan anda berhak menuntut cerai.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah -hafizhohullaah- (Pengasuh web al-atsariyyah.com)
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/perceraian-halal-tapi-dibenci.html#comment-8982

    Like

    Reply
  • 2. ibnu ashar  |  14/11/2011 at 10:50 pm

    Bismillah. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh, akh.

    Ana mau bertanya mengenai nama kunyah. Abi seorang mu’alaf yang bernama Sihar (dalam bahasa batak berarti sinar/cahaya), dan memiliki nama islam “Ashar” (yang tidak pernah digunakan). Yang mau ana tanyakan :
    1. Apakah dibenarkan pemberian nama islam dalam syariat ketika seseorang masuk islam?
    2. Bolehkah ana memakai nama kunyah ibnu ashar? karena ana pernah cek di internet, kata ashar berasal dari bahasa hebrew (ibrani) yang berarti “diberkati Tuhan”

    Jazakumullahu khairan

    Jawaban :

    1. Ya disyariatkan, jika namanya mengandung makna yang kurang baik.
    2. Kalau boleh, ya boleh saja jika maknanya memang kebaikan. Wallahu A’lam

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah

    Sumber : http://al-atsariyyah.com/seputar-nasikah-aqiqah.html#comment-6753

    Like

    Reply
  • 3. aris  |  10/11/2011 at 6:05 pm

    assalamualaikum wr.wb

    Saya ada masalah pribadi,,
    2 minggu lg saya mau menikah,,
    Kebetulan calon saya punya ayah yg tdk bertanggung jawab,,,sejak kecil setelah orang tua’a bercerai,ayah’a tidak pernah lgi menganggap dia anak,,sedikit pun tidak pernah di beri nafkah,padahal jarak rumah mereka hanya 50 m,,hampir tiap hari dia dah ayah’a berpapasan,,selama nie dia numpang di rmh om nya bersama mamaknya,,,
    Sekarang saya ingin menikah dengan dia,,apakah wali nikah bisa di ganti???
    Dia sudah sangat benci sama ayah’a,,,
    Saya mohon bantuan’a segera….
    Terima kasih.

    “Waalaikumussalam.
    Asalnya yang menikahkannya adalah ayahnya. Namun jika tidak memungkinkan maka bisa digantikan oleh kakenya atau saudara lelakinya atau saudara lelaki ayahnya.”

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/anak-tanggung-jawab-ayah.html#comment-6694

    Like

    Reply
  • 4. Dwi Ratih  |  09/11/2011 at 5:09 pm

    Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
    Pak Ustad saya ingin mengulangi pertanyaan saya yang lalu…kok dihapus disini.? Intinya saya ingin tanya Apakah Alasan Allah SWT menciptakan makhluk & Semesta sementara Allah bisa berdiri sendiri & Maha Sempurna. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Jawaban :

    Waalaikumussalam Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
    Silakan baca surah Adz-Dzariyat ayat 56.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/makna-laa-ilaha-illallah.html#comment-6814

    Like

    Reply
  • 5. bagus  |  22/10/2011 at 8:50 pm

    bagaimana hukumnya jika keluar madzi tetapi saat melihat film/video non-pornografi?

    jawaban :

    Madzi: Cairan tipis dan lengket, yang keluar ketika munculnya syahwat, baik ketika bermesraan dengan wanita, saat pendahuluan sebelum jima’, atau melihat dan mengkhayal sesuatu yang mengarah kepada jima’. Keluarnya tidak terpancar dan tubuh tidak menjadi lelah setelah mengeluarkannya. Terkadang keluarnya tidak terasa. Dia juga najis berdasarkan kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Ali yang akan datang dimana beliau memerintahkan untuk mencucinya.

    Berhubung kencing dan wadi sudah jelas kapan waktu keluarnya sehingga mudah dikenali, maka berikut kesimpulan perbedaan antara mani dan madzi:
    a. Madzi adalah najis berdasarkan ijma’, sementara mani adalah suci menurut pendapat yang paling kuat.
    b. Madzi adalah hadats ashghar yang cukup dihilangkan dengan wudhu, sementara mani adalah hadats akbar yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub.
    c. Cairan madzi lebih tipis dibandingkan mani.
    d. Mani berbau, sementara madzi tidak (yakni baunya normal).
    e. Mani keluarnya terpancar, berbeda halnya dengan madzi. Allah Ta’ala berfirman tentang manusia, “Dia diciptakan dari air yang terpencar.” (QS. Ath-Thariq: 6)
    f. Mani terasa keluarnya, sementara keluarnya madzi kadang terasa dan kadang tidak terasa.
    g. Waktu keluar antara keduanyapun berbeda sebagaimana di atas.
    h. Tubuh akan melemah atau lelah setelah keluarnya mani, dan tidak demikian jika yang keluar adalah madzi.
    Karenanya jika seseorang bangun di pagi hari dalam keadaan mendapatkan ada cairan di celananya, maka hendaknya dia perhatikan ciri-ciri cairan tersebut, berdasarkan keterangan di atas. Jika dia mani maka silakan dia mandi, tapi jika hanya madzi maka hendaknya dia cukup mencuci kemaluannya dan berwudhu. Berdasarkan hadits Ali -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang orang yang mengeluarkan madzi:
    اِغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ
    “Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah kamu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

    Untuk lebih lengkapnya, silahkan anda buka link berikut, diikuti dengan tanya-jawab seputar air madzi dan semisalnya http://al-atsariyyah.com/perbedaan-mani-madzi-kencing-dan-wadi.html

    Like

    Reply
  • 6. Ummi Kalsum Soegito  |  20/10/2011 at 8:54 am

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    ustadz, saya mau tanya mengenai masalah dalam shalat.atas jawaban dari ustadz saya ucapkan terimaksih. begini, ada dua hal yang ingin saya tanyakan;
    1. bolehkah kita membaca hanya satu ayat pada raka’at pertama dalam shalat? contohnya; kita memebaca untuk raka’at pertama “yaasiiiin”. kemudian kita ruku’. pada raka’at kedua kita sambung ayat yang kedua, yaitu “walqur’aanil hakiim”.

    2. memberi salam pada raka’at terakhir dengan ucapan assalaamu’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,bolehkah?
    saya mohon jawaqban disertai dengan dalil yang kuat.tks.
    wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

    Jawaban :

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ .

    1. Boleh insya Allah jika memang hanya itu yang kita mampu baca, namun jika kita mampu lebih dari itu maka tentu pahalanya lebih besar dan lebih sempurna. Adapun dalil akan bolehnya adalah hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Al-Hakim dan beliau menshahihkan serta disepakati oleh Adz-Dzahabi juga dishahihkan Syaikh Albani dalam Shifatus Sholah:

    لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يكبر ويحمد الله جل وعز ويثني عليه ويقرأ بما تيسر من القرآن

    “Tidak sempurna sholat seorang dari kalian sampai dia bertakbir, memuji Allah jalla wa ‘azza dan menyanjung-Nya, dan membaca apa yang mudah (baginya) dari Al-Qur’an.”

    Ucapan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “…dan membaca apa yang mudah (baginya) dari Al-Qur’an.” menunjukkan bolehnya seorang membaca Al-Qur’an sesuai kemampuannya yang mudah baginya.

    2. Asy-Syaikh Al-Albani menjelaskan dalam Shifatus Sholah, bahwa ucapan salam “Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh” :
    Pertama, hanya pada salam pertama.
    Kedua, dilakukan kadang-kadang.
    Berikut dalilnya:

    ثم ” كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يسلم عن يمينه : ” السلام عليكم ورحمة الله ” ، [ حتى يُرى بياض خده الأيمن ] ، وعن يساره : ” السلام عليكم ورحمة الله ” ، [ حتى يُرى بياض خده الأيسر ] ”

    “Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mencucapkan salam ke kanan “Assalamu’alaykum warahmatullah [sampai terlihat putihnya pipi kanan beliau] dan salam ke kiri “Assalamu’alaykum warahmatullah [sampai terlihat putihnya pipi kiri beliau]

    [HR. Abu Daud, Nasai, Tirmidzi dan asalnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu]

    Dan dalam riwayat Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yg shahih terdapat tambahan:

    وكان أحياناً يزيد في التسليمة الأولى : ” وبركاته ”

    “Terkadang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menambah pada salam yang pertama: “Wabarakatuh.”

    Wallahu A’lam.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Sofyan Ruray (Pengasuh blog http://nasihatonline.wordpress.com)

    Like

    Reply
  • 7. abdurrohim  |  19/10/2011 at 3:53 am

    Bismillahirrohmanirrohim.
    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Ana ada pertanyaan :

    1. Jika kita sedang meruqyah, lalu jin yg ada di tubuh orang yg kita ruqyah itu meminta agar kita membacakan surat Yasin untuknya, apakah boleh bagi kita untuk memenuhi permintaannya?

    2. Apakah para ulama mengharamkan makanan yang berasal dari acara-acara bid’ah walaupun makanan itu tidak dipersembahkan untuk selain Alloh? Apakah boleh kita katakan bahwa pengharaman ini dibangun di atas kaidah : التابع تابع ?

    Jazakumullohu khoiron atas jawabannya.

    Jawaban :
    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    1. Sebaiknya jangan didengarkan, tetap saja membaca apa yang anda baca.
    2. Ya, pengharaman makanan itu adalah karena dia berada pada acara yang haram, bukan karena asal makanannya haram.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/semua-tentang-ruqyah.html#comment-6817

    Like

    Reply
  • 8. yayan  |  16/10/2011 at 9:18 pm

    Assalmualaikum Warrah matullah hi Wabarakatu,

    Saya sudah nikah 11 thn, punay anak 2 , 10 tahun dan 5 tahun. Saya merasa aneh meliahat tingkah dan tindakan istri saya 6 bulan terakhir, dan ternyata benar.. 8 hari sebelum Idul fitri (2011), saya di beri petunjuk oleh seorang ustad, bahwa istri saya selingkuh, dan istri saya bener2 mengakui. saya sempat shock, pingsan, bahkan 2 minggu setelah kejadian itu pun, saya hampir “mati: dengan srerangan jantung tiba2, dan di rawat di Hospital 2 hari. Sekarang saya sudah mulai ikhlas, dan memaafkan istri saya. Tapi celakanya.. setiap saat, sampai detik ini, istri saya selalu ngajak ribut mulut, bikin saya marah, dan jawabannya selalu bilang “saya sudah tidak bisa”.
    Pertanyaan saya, :
    1. apa sikap yg harus saya ambil atas musibah terhadap keluarga saya?
    2. Apa hukum secara Islam, bagi istri yg sudah selingkuh,,, bukannya berusah memperbaiki hubungan yg sudah di khianati nya, , malah ngajak ribut dan selalu bilang “tidak bisa “.
    3. Salah kah saya, dimasa sedang tidak nyaman ini (sudah 2 bulan) saya masih minta hubungan badan? dan sering di tolak oleh istri saya?
    Sampai saat ini saya masih mencintai istri saya dan anak2 kami.

    Terim kasih,

    Wassalam.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Jika sudah seperti itu, mungkin ada baiknya jika anda mempertimbangkan perceraian. Karena anda berhak melakukannya.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/hak-istri-dari-suaminya.html#comment-6343

    Like

    Reply
  • 9. akbar  |  14/10/2011 at 10:31 am

    assalamu alaikum wr wb
    saya mau bertanya
    saya ingin menikah dengan pacar saya tetapi tidak di restui oleh orang tua / ibu dari pacar saya sedangkan semua persiapan sudah 75 % apakah saya bisa melanjutkan tanpa restu dari ibunya sedangkan bapak nya sudah meniggal dunia

    Wa’alaykumussalam warohmatullahi wabarakatuh

    Wali lelaki lain selain ayah adalah saudara sekandungnya yg laki2, kakek (ayahnya ayah) dan paman (saudara ayah). Kalau tidak ada maka tidak ada jalan lain kecuali meminta KUA menjadi perantara dengan keluarga. Karena bagaimanapun juga tidak syah pernikahan wanita tanpa wali. Wallahu a’lam.

    Sumber rujukan : http://al-atsariyyah.com/tidak-syah-nikah-tanpa-wali.html

    Like

    Reply
  • 10. Sri Wahyuningsih  |  11/10/2011 at 6:32 am

    Dengan hormat,

    Assalamu’alaikum wr wb

    Saya ingin menanyakan apa yang harus saya lakukan?
    Begini ceritanya
    Tahun 1999 ibu saya berangkat ke malaysia sebagai TKI, sebenarnya berat tapi ibu saya nekat karena masalah ekonomi keluarga, Dan selama beliau disana hubungan komunikasi saya baik (sering telepon) baik dari ibu atau dari keluarga di indonesia, dan ibu sering kirim uang untuk memperbaiki rumah.
    Tahun 2004 ibu pulang karena saya mau lamaran dan tahun 2005 pulang lagi karena saya menikah, setelah saya menikah ibu balik lg ke malaysia, setelah itu ibu jarang telepon dan susah dihubungi, sekalinya bisa dihubungi katanya ibu kena guna2 sama pria sana dan waktu saya tlp yang nerima cowok dia bilang saya suaminya, saya langsung sock dan itu berlangsung lama sampai tahun 2007 ibu saya bisa pulang katanya sudah terlepas dr guna2, pulang dirumah gak lama dan pengen kerja lagi, sebenarnya keluarga tidak mengijinkan ibu balik, tapi ibu tidak bisa dicegah dan beliau bilang mau ke singapura biar tidak ketemu pria itu lg, setelah pergi lama ibu menghubungi kita di indonesia dan ternyata beliau di malaysia lg, sampai skr belum pulang dan udah gak pernah komunikasi dengan bapak saya, setia saya tlp yang nerima cowok yg ngaku sebagai suaminya, apa yang harus saya lakukan?kemarin saya sms cepet pulang dan selesaikan urusan sama bapak biar tidak nanggung dosa banyak2, setelah urusan selesai terserah mau ngapain, benar gak yang telah saya lakukan

    terima kasih

    Wassalamu’alaikum wr wb


    Jawaban

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Saudari yang semoga Allah menjaga dan memberi keshabaran kepada saudari dan keluarga serta memberi hidayah kepada ibu saudari. Kami turut bersedih dengan apa yang dihadapi saudari.

    Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan

    Pertama : Tentang pengakuan orang Malaysia yang mengaku – ngaku menjadi suami istri orang dalam hal ini ibu anti, maka tidak boleh dipercaya begitu saja bahwa kalau dia telah menikahi ibu anti, karena dia orang fasik dan kita diperintahkan untuk tabayun (mencari tahu lebih lanjut) tentang kebenaran khabar itu atau pengakuan hal itu. Apa lagi ibu anti mengaku diguna-guna, walaupun hal ini pun perlu ditabayun juga.

    Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman

    Allah Ta’ala berfirman :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

    “ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu “ ( QS: Al Hujuraat: 6 )

    Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : “ Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengecek berita yang bersumber dari orang yang fasiq agar berhati-hati dengannya “ ( Tafsir Ibnu Katsier pada ayat ini ).

    Kedua : Kalau seandainya hal itu benar terjadi misalnya adanya pernikahan antara ibu anti dengan orang Malaysia itu, maka pernikahannya tidak sah, karena dia menikahi istri orang (ibu anti istri dari bapak anti), dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman

    وَالمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ

    “ Dan (diharamkan juga kamu menikah) perempuan yang bersuami…” (Qs. An Nisa’ : 24)

    Ketiga : Kami nasehatkan anti atau keluarga anti untuk selalu menasehati ibu anti untuk pulang keindonesia. Anti harus berusaha agar ibu anti pulang. Hubungi saudara laki-laki anti yang bisa membantu atau bapak anti, anti bisa bilang sama kedubes Indonesia yang ada di Malaysia dengan menceritakan perihal ibu anti dan minta bantuan dubes Indonesia untuk malaysia untuk membantu anti memulangkan ibu anti ke indonesia.

    Keempat : Kalau anti mempunyai kesempatan menasehati ibu anti, nasehati untuk selalu dzikir dan berdoa kepada Allah, begitu juga anti serta keluarga anti juga jaga dzikir-dzikirnya yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam (silahkan lihat doa-doa dari Al qur’an dan As Sunnah, Said bin wahf al Qahtani).

    Kelima : Kalau seandainya ibu anti sudah pulang, maka tanya kejadian sebenarnya seperti apa, kemudian segera diselesaikan dengan bapak anti, nasehati ibu anti untuk bertaubat kepada Allah. Bapak anti boleh menceraikan ibu anti dan boleh juga menerima (tidak menceraikan) ibu anti jika sudah bertaubat kepada Allah dari perbuatannya (yaitu menikah dengan orang lain dengan status masih punya suami, jika ini benar).

    Keenam : Banyak berdoa kepada Allah semoga Allah memudahkan urusan anti. Semoga jawaban sederhana ini bermanfaat.

    Wallahu a’lam bis shawwab

    dijawab oleh : Al-Ustadz ‘Abdullah Joko Hafidzahullaah

    Like

    Reply
  • 11. dk  |  25/09/2011 at 7:29 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    ustad usia saya 18 tahun.saya tinggal di jakarta bersama temansaya 1 rumah. kami kos sama-sama, kantor ya juga sama. tapi ada perbedaan karakter di antara kami, saya yang egois dan cerewet, sedang dia cugek/congek dan pendiem.yang saya tidak suka dari dia , ketika dia ada masalah dengan orang saya yang didemin, padahal saya paling ga suka di diemin….. saya sering sakit hati kalo saya ga salah tapi didiemin… ustad bagaimana baiknya saya menyikapi hal ini ? mohon bantuanya.

    wassalam

    Jawaban :

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Anda bisa terus terang kepadanya mengenai hal tersebut. Atau jika anda khawatir kalau berterus terang itu bisa merusak hubungan baik di antara kalian, maka sebaiknya anda memaklumi dan memaafkan kalau itu memang sudah menjadi watak dan pembawaannya.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/aturan-dalam-menjalin-pertemanan.html#comment-6818

    Like

    Reply
  • 12. yani  |  22/09/2011 at 3:30 pm

    Assallamualaikum Wr. Wb

    Saya adalah seorang istri dan sudah mengarungi rumah tangga selama hampir 11 tahun, dan kami sudah dikaruniai 2 orang anak.

    Ustad..saya mohon bisa memberikan tuntunan kepada saya doa dan ikhtiar apa yang harus saya lakukan agar suami saya selalu mencintai saya seperti dulu. karena saya merasa akhir2 ini dia sudah berubah, dan saya sebagai seorang istri pasti bisa merasakan hal ini, saya merasa suami saya memiliki perasaan terhadap perempuan lain. walaupun saya tahu, kalau suami saya tidak berselingkuh dan tidak berzina. namun sikap2 yang dia tunjukakan selama ini sudah cukup membuat saya yakin, jika ada cinta/wanita yang lain.(terlalu panjang jika harus saya tuliskan contohnya)

    Ustad..saya tidak ingin terjerumus oleh bisikan setan, dan mernbuat suatu fitnah kepada suami saya, selama ini saya tidak pernah curhat.bercerita kepada org lain tentang perasaan saya ini. saya takut jika yang saya yakini salah, maka akan terjadi fitnah. maka itu, saya juga mohon kepada ustad, doa apakah yang bisa menenangkan hati saya, dan apakah saya bisa memohon kepada ALLAH supaya diberikan petunjuk, apakah memang benar suami saya mencintai wanita lain atau tidak, sehingga saya tidak dalam kebimbangan/ prasangka.

    Saya memahami, sbg istri saya juga jauh dari sempurna, jadi mohon bimbingannya apa yang harus saya lakukan sebagai seorang Hamba Allah, Muslimah, dan istri jika mengahadapi kondisi seperti ini.

    Wassallamualaikum Wr. Wb


    “Waalaikumussalam.
    Perlu diketahui bahwa di antara amalan yang sangat disenangi setan adalah merusak hubungan suami istri. Karenanya jangan sampai anda terjatuh ke dalam godaan dan was-was yang mereka bisikkan. Karenanya selama itu bukanlah keyakinan maka jangan sekali-kali ditanggapi.
    Hanya saja untuk menghentikan hal itu, ada baiknya jika anda membicarannya hal ini dengan suami dari hati ke hati, semoga Allah memberikan solusinya.”

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah.
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/hak-istri-dari-suaminya.html#comment-6344

    Like

    Reply
  • 13. ikhwan  |  14/09/2011 at 6:51 am

    Assalamu’alaikum,
    ana seorang ikhwan berumur 26 tahun, ana bekerja di salah satu toko dengan gaji alhamdulillah masih pas-pasan. ust Afwan sebelumnya, ana adalah orang yang aktif kajian, akan tetapi masih sering melakukan dosa-dosa besar yang berhubungan dengan masalah pornografi dan hal ini berimbas ke onani, dalam hati saya benci hal ini, akan tapi kadang-kadang ada sesuatu hal yang sangat kuat untuk mendorong melakukan hal hina ini. bagaimana solusinya ust? ana sudah berazam kuat untuk meninggalkan hal ini, tp masih saja hal ini terus ana lakukan? mohon nasihat dan do’anya agar ana bisa seperti orang-orang sholeh sebelum kita. afwan mohon pertanyaan ana dirahasiakan. Jazakumulloh…………..

    Jawaban :

    Wa’alaykumussalam warohmatullohi wabarokaatuh,
    Berlindung kepada Allah dari godaan setan, cepat menikah, dan usahakan jangan sampai sendirian.
    Silakan baca komentar-komentar yang ada di link berikut ini http://al-atsariyyah.com/hukum-onani-atau-masturbasi.html

    Like

    Reply
  • 14. ranti diyah  |  13/09/2011 at 3:04 pm

    Assalamualiakum.wr.wb

    Saya menikah sudah 3 tahun dan selama itu pula saya selalu bertengkar dengan suami mengenai masalah rumah tangga.Dan yang menjadi pokok permasalahan suami saya selalu berbohong mengenai keuangan misalnya gaji.Suami bilang kalo belum gajian padahal menurut teman sekantornya sudah dan hal ini berlangsung terus menerus.Jika saya bertanya terus suami marah marah berkata kasar dan kata kata jorok semua keluar dari mulutnya.Padahal sebenarnya yang saya inginkan bukan uangnya tapi kejujurannya karena saya saat ini masih bekerja. Salahkah saya jika ingin mengakhiri pernikahan ini Ustad karena saya sudah lelah dan hanya fokus membesarkan anak saya.Dan satu lagi keluarga besar saya memang menganjurkan saya untuk berpisah dengan suami saya. Tolong petunjiknya PAk Ustadz

    Jawaban :

    Waalaikumussalam.
    Wallahu A’lam, kalau menurut kami pribadi, alasan di atas belum cukup kuat secara syar’i bagi wanita untuk meminta cerai. Karena suami berbohong atau marah kepada istri itu dalam rumah tangga adalah hal yang kerap terjadi (walaupun bukan berarti itu dibenarkan). Jadi yang kami anjurkan adalah banyak2 bersabar dan berbicara dari hati ke hati dengan suami mengenai masalah yang dialami. Sampai suatu saat ada alasan syar’i yang membuat dia boleh menggugat cerai, baru dia lakukan. Akan tetapi semoga Allah Ta’ala memperbaiki hubungan anda berdua, amin.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/perceraian-halal-tapi-dibenci.html#comment-6819

    Like

    Reply
  • 15. BT  |  08/09/2011 at 9:29 am

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Saya mau sedikit curhat mungkin ustadz bs kasih pendapat mengenai pernikahan kami, dan mungkin bisa memberikan solusi yang terbaik.

    Singkat kata kami menikah setelah 6 bln saling mengenal (cukup cepat). karena mnrt saya saya tidak ingin lama berpacaran tp tidak jelas akhirnya. seperti hubungan saya sebelumnya. dan sekarang usia pernikahan kami baru 1,2 tahun.

    1. Setelah menikah istri menjadi sangat posesif, pencemburu total. karena terkena macet telat sampai rumah malah dibilang jalan sama perempuan lain. padahal dulunya dia tidak seperti itu. dulu istri merupakan orang yang sangat pengertian, tp setelah menikah dia menjadi diktator.

    2. Setelah menikah saya tidak bisa lagi kerja lembur karena istri mengharuskan saya menjemput setelah pulang kerja, saya sdh coba komunikasikan dengannya mengenai ini, dia blg ya boleh ajah kalau mau lembur. tp hasilnya nihil setiap saya lembur di kantor, tlp saya selalu berdering menanyakan pulang jam brp hampir setiap 10 menit.

    3. Setelah menikah saya tidak lagi bisa bersilaturahmi dengan kawan2 saya kawan2 smp, sma, kuliah, komunitas motor dan mobil, karena istri selalu berfikiran negatif, seperti “mind reader” dia selalu beranggapan tmn2 saya adalah sumber masalah. pdhl mereka yang memberikan jalan agar kami bisa menikah. dan hingga sekarang saya tidak lagi dapa berkumpul dengan kawan2 saya walau hanya 1 jam dalam sebulan. Bahkan contact list tlp pun sdh tidak ada kawan2 saya lagi semua dihapus, Facebook saya harus di delete, email, nomer telepon diganti, pin bbm tiap hari di cek, kalau ada nambah org ditanya siapa, kenal dmn, ada urusan apa add pin bb. Bgitu juga dgn nomer telepon.

    4. Sudah lebih 3 kali dia memukul dan melempar saya dengan benda di rumah, dan berusaha melukai dirinya sndiri dengan membenturkan kepala ke kaca atau ke tembok dan semenjak saya mengalami perlakuan ini, saya sangat tidak respek sm istri. karena terus terang saya sangat sakit hati dengan perlakuan dia. walaupun skrg sdh tidak pernah lagi krn saya selalu menghindari pertengkaran. dan saya lebih banyak diam dan mengikuti kemauannya. krn saya sdh sangat malas untuk berdebat dan bertengkar, krn dia selalu merasa paling benar dan merasa lebih pintar. mungkin krn dia lulusan UI dan saya hanya lulusan universitas swasta dan tidak terkenal. dan dia bekerja di BUMN sedangkan saya hanya bekerja di Bank Swasta dengan gaji yang tentunya lebih rendah dari dia.

    Mohon saya diberikan pencerahan mengenai permasalahan saya ini. Saya takut melakukan kesalahan yang berakibat fatal, krn saya juga takut istri melakukan hal2 yang membahayakan dirinya sendiri apabila saya meminta perceraian.

    Jazakumullahu Khairan Katsiran.

    Jawaban :

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Semuanya terserah anda, anda sebagai suami dan di tangan andalah keputusan rumah tangga, anda mau menceraikan itu adalah hak anda -walaupun jelas akan ada resikonya- dan jika anda bersabar maka itu adalah keutamaan dan pahala. Ada baiknya anda meminta bantuan dari mertua untuk menasehati istri, atau hal-hal lain yang mungkin bisa meluluhkan hatinya untuk memahami anda. Karena suami tentunya lebih paham mengenai watak dan kepribadian istrinya. Semoga Allah Ta’ala memperbaiki hubungan pernikahan anda, amin.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
    Sumber : http://al-atsariyyah.com/perceraian-halal-tapi-dibenci.html#comment-6820

    Like

    Reply
  • 16. andriyunantoro  |  17/08/2011 at 10:12 am

    Bismillahirrohmanirrohim.
    Afwan Tadz, ana mau tanya. Apakah antara shalat Zhuhur dan Ashar di hari Rabu termasuk salah satu waktu mustajabnya doa? Ini diceritakan oleh Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu:

    أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه
    قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة

    “Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘”

    Dalam riwayat lain:

    فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر

    “Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata: “Semua perawinya tsiqah”, juga dishahihkan Al Albani di Shahih At Targhib, 1185)

    Jazakumullohu khoiron atas jawabannya.

    “Wallahu a’lam, karena setahu kami sebagian ulama melemahkan hadits di atas dengan alasan adanya perawi yang bernama Katsir bin Zaid di dalam sanadnya, dan dia adalah rawi yang lemah. Wallahu a’lam.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah.
    sumber : http://al-atsariyyah.com/sebab-sebab-tertolaknya-berdoa.html

    Like

    Reply
  • 17. Hukum Makmum berantai — salafy.in  |  23/03/2011 at 9:52 am

    [...] http://problemamuslim.wordpress.com/ayo-kirim-pertanyaan-anda/daftar-tanya-jawab/ [...]

    Like

    Reply
  • 18. HUKUM MAKMUM BERANTAI « RUANG BELAJAR ABU RAMIZA  |  22/03/2011 at 4:16 pm

    [...] Dinukil dari: [...]

    Like

    Reply
  • 19. Ummu Zahro  |  08/12/2010 at 8:17 pm

    Bismillah
    Assalaamu’alaykum warahmatullahi wa baraakaatuhu

    Ustadz, bagaimana hukumnya mengikuti kegiatan PKK?
    Biasanya diadakan 1 bulan sekali dimana anggotanya ibu2 satu RT dan kegiatannya antara lain arisan, kalo ada yg sakit dijenguk sama2, kalo ada masalah dimusyawarahkan bersama dsb.Tetapi ada yg meyelisihi agama yaitu sebelum
    dimulai, ada pembacaan Pancasila, menyanyikan mars PKK dan lagu nasional.
    Apakah kita tidak boleh ikut sama sekali?

    Sebelumnya jazakumullahi khairan katsiira


    “Wa’alaykumussalam warohmatullohi wabarokaatuh,

    Berikut jawaban dari Al-Ustadz Abu Zakariya Rishky. Silahkan mendengarkannya dengan mendownload link berikut http://www.4shared.com/audio/W6N4uFGU/Al-Ustadz_Rishky_Abu_Zakariya_.html

    Semoga bermanfaat.

    wa jazaakillahu khairan.”

    Like

    Reply
  • 20. ainie  |  03/12/2010 at 12:02 pm

    assalamuallaikum

    “wa’alaykumussalam warahmatullah”

    Like

    Reply
  • 21. rena  |  28/11/2010 at 5:48 pm

    assalamuallaikum ustaz saya menikah sudah 8 bulan dan sedang mengandung sejak awal pernikahan suami saya tidak pernah menafkahi secara lahir dan sudah 3 bulan terakhir saya sudah tidak pernah mendapat nafkah batin,,yang ingin saya tanyakan apakah dengan hal yang demikian secara tidak langsung suami saya telah menjatuhkan talak kepada saya????dan apa yang harus saya perbuat mohon jawabannya dikirim via email..terima kasih ustaz

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,

    berikut jawaban dari Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Hammad. Silahkan mendengarnya melalui rekaman berikut http://www.4shared.com/audio/98FrwWb_/Suami_Yg_Tdk_Menafkahi_Lahir__.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 22. ganjar  |  26/11/2010 at 7:56 pm

    Assalamualaikum,..
    pak ustadz,.. saya sudah bercerai terucap kata cerai) 1 tahun yg lalu – belum di urus ke KUA, sekarang kami sepakat untuk rujuk karena sama masih kehilangan. Cara untuk rujuk tersebut bagaimana (tata cara_nya) agar kami kembali syah sbg suami istri
    wassalam
    ganjar


    “Wa’alaykumussalam warohmatulloh,

    Silahkan mendengarkan jawabannya disini oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Hammad,
    http://www.4shared.com/audio/zAdha9Jj/Cara_Rujuk_setelah_cerai_tanpa.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 23. Prima Noor  |  10/11/2010 at 12:54 pm

    Assalamu’alaykum warah matullahi wabarakatuh.
    Ana mau tanya, mohon segera dijawab.
    Pada tahun ini pemerintah Indonesia menyatakan bahwa Idul Adha jatuh pada hari Rabu 17 Nopember 2010, sedangkan di Arab Saudi Idul Adha jatuh pada tanggal 16 Nopember 2010.
    Bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim.
    Jika kita mengikuti pemerintah Indonesia (Id pada hari Rabu) kemudian bagaimana dengan puasa nya?
    Jazakumullahu khairan katsiira.


    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,

    Silahkan untuk membaca penjalasannya pada link berikut http://sunniy.wordpress.com/2007/12/15/idul-adha-bersama-pemerintah/

    wa Jazaakallaahu khairan.”

    Like

    Reply
  • 24. hamba allah  |  10/11/2010 at 10:06 am

    ass..
    bagaimana hukumnya apabila py suami yang tdk menjalankan ibadah sbgmn mestinya co: meninggalkan sholat
    Bagaimana sikap kita sebagai seorang istri??


    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,

    Silahkan mendengarkan jawabannya oleh Al-Ustadz Rishky Abu Zakariya pd link berikut http://www.4shared.com/audio/tC87rFkU/Al-Ustadz_Rishky_Abu_Zakariya_.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 25. Yuna  |  08/11/2010 at 10:20 pm

    Assalamu’alaikum, ustadz ana mau tanya, bagaimana hukum suatu pernikahan ke 2 tanpa ada kata cerai atau surat cerai dari suami pertama…

    Karena pernikahan ana tanpa ada kata cerai atau surat cerai dari suami ana pertama, artinya perpisahan ana dengan suami yang pertama cuma selama 4 bln dengan alasan karena tidak ada kecocokan lagi, sering bertengkar dan ana lari dari rumah, tanpa berpikir panjang ana menikah lagi dan pada saat ana hamil 5 bln dengan suami yang ke 2, suami yang pertama datang menyerahkan anak kami dan ia cuma bilang “jangan Berbuat yang macam-macam lagi cukup saya aja yang sakit”.

    Tolong berikan jawaban yang detail dan jelas ustadz ana mau bertobat, ana mau memperbaiki semuannya. Terima Kasih

    “Bismillah,

    Wa’alaykumussalam warahmatullah,

    Berikut jawaban dari Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Hammad. Silahkan mendengarkannya pada link berikut http://www.4shared.com/audio/L2VDH30X/Hukum_Pernikahan_Istri_Yg_Meni.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 26. DM  |  02/11/2010 at 11:16 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Saya suda meikah selama 7tahun&dikarunia 2 org putra.namun dulu kami menikah krn kecelakaan.saya menentang ibu saya yang tidak setuju&sekarang ketidaksetujuan nya terjawab. Rumah tangga saya tidak pernah rukun.kami sama2 egois. Selalu saja ada prtengkaran antara kami.
    kami sudah pernah 2x berpisah namun rujuk lagi krn banyak janji dia yang saya pegang.tapi tdk satu pun yang ditepati.malah perubahan dia hanya bertahan sebentar.
    sekarang, kami sudah berpisah selama 1 tahun.pisah rumag namun dia suka dtg sebentar u/melihat anak2. Saya bersikukuh minta cerai tapi dia tetap menolak. belum lagi ibu saya sangat tidak suka dengan sikap2 dia krn diapun kurang respect&menghormati ibu saya. Saya anak satu-satunya&kedua orang tua saya pun telah lama berpisah.saya merasa punya tanggung jawab yang besar kepada ibu saya.apalagi menginat saya dulu telah durhaka dengan menikahi dia dlm keadaan hamil&lari dari rumah.saya merasa sangat berdosa&dinatui perasaan bahwa yang saya alami saat ini adalah karma.

    Saya benar2 bingung.dia tetap tidak mau cerai pdhal sudah saya kemukakan semua. Mohon pa ustadz membantu saya memberikan masukan sebagai pencerahan karena saya tidak tahu lagi haris bersikap bagaimana.

    Mohon dikirim balasan ke alamat email saya.
    Wasalam

    Dari : DM

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Saya suda menikah selama 7 tahun & dikarunia 2 org putra.namun dulu kami menikah krn kecelakaan.saya menentang ibu saya yang tidak setuju & sekarang ketidaksetujuan nya terjawab. Rumah tangga saya tidak pernah rukun.kami sama2 egois. Selalu saja ada pertengkaran antara kami.
    kami sudah pernah 2x berpisah namun rujuk lagi krn banyak janji dia yang saya pegang.tapi tdk satu pun yang ditepati.malah perubahan dia hanya bertahan sebentar.
    sekarang, kami sudah berpisah selama 1 tahun.pisah rumah namun dia suka dtg sebentar u/melihat anak2. Saya bersikukuh minta cerai tapi dia tetap menolak. belum lagi ibu saya sangat tidak suka dengan sikap2 dia krn diapun kurang respect&menghormati ibu saya. Saya anak satu-satunya&kedua orang tua saya pun telah lama berpisah.saya merasa punya tanggung jawab yang besar kepada ibu saya.apalagi menginat saya dulu telah durhaka dengan menikahi dia dlm keadaan hamil&lari dari rumah.saya merasa sangat berdosa&dinatui perasaan bahwa yang saya alami saat ini adalah karma.

    Saya benar2 bingung.dia tetap tidak mau cerai pdhal sudah saya kemukakan semua. Mohon pak ustadz membantu saya memberikan masukan sebagai pencerahan karena saya tidak tahu lagi haris bersikap bagaimana.

    Mohon dikirim balasan ke alamat email saya.
    Wasalam


    Dijawab oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc

    Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah wa ba’du,

    Bila seorang suami tidak melakukan kewajibannya, atau istri sangat benci terhadap suami sehingga tidak mungkin lagi membangun rumah tangga bersamanya maka saat itu diperbolehkan untuk melakukan khulu’, yaitu membatalkan pernikahan, caranya, istri meminta kepada suami untuk membatalkan pernikahan mereka, dan istri mengembalikan maharnya kepada suami. Tentunya proses ini lebih baik ditempuh secara resmi, misalnya di KUA.

    Pernah terjadi di zaman Nabi hal yang semacam ini, sebagaimana dalam hadits berikut ini

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ .أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتُبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ ، وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ » . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً »

    Dari Ibnu Abbas bahwa Istri Tsabit bin Qois datang kepada Nabi shallahu ‘alai wa sallam maka dia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah Tsabit bin Qois, saya tidak mencelanya dalam hal akhlak dan agama akan tetapi saya tidak suka kekafiran setelah keislaman’. Maka Rasulullah shallahu ‘alai wa sallam mengatakan; ‘Apakah kamu mau mengembalikan ladangnya (yaitu maharnya)’. Maka ia menjawab: ‘Iya’. Maka Nabi shallahu ‘alai wa sallam katakan (kepada Tsabit) ‘Terimalah ladang itu dan ceraikanlah’. [Shahih HR Al Bukhori:5273]

    Kekafiran yang di maksud adalah akhlak kekafiran setelah masuk Islam. Dikarenakan ia sangat benci terhadap Tsabit dan khawatir berat akan melanggar aturan agama dalam hidup berumah tangga dengannya.

    Akan tetapi bila tidak ada alasan yang dibenarkan oleh syariat, lalu seorang istri minta diceraikan maka tidak boleh bahkan haram, seperti misalnya masalah-masalah yang insyaallah dapat diselesaikan. Dalam hadits,

    عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة ».

    Dari Tsauban ia berkata bahwa Rasulullah shallahu ‘alai wa sallam bersabda: Wanita, siapapun dia, yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab yang berat maka haram baginya mencium bau surga. [Shahih. HR Abu Dawud: 2228 dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh asy Syaikh al Albani]

    Selanjutnya, perlu kami ingatkan bahwa apa yang lalu dari berbagai problematika adalah buah dari kemaksiatan tersebut –wallahu a’lam- , durhaka kepada orang tua adalah dosa yang sangat besar, zina juga dosa yang sangat besar. Allah tidak mengharamkan keduanya kecuali karena keduanya akan membawa kepada kecelakaan dunia dan akhirat, percayalah dengan hukum Allah, dan tunduklah kepadanya, Allah sangat belas kasih kepada kita, karena itu, kita dilarang dari semua itu.

    Maka ambillah pelajaran, jangan sampai itu terjadi pada diri kita dan anak turun kita, jagalah diri kita dan anak turun kita dengan extra perhatian dan penjagaan. Semoga Allah melindungi kita semua amin.

    Like

    Reply
  • 27. novi  |  31/10/2010 at 10:03 pm

    apakah seorang janda jika mau menikah lagi harus persetujuan orang tua

    “Silahkan dengarkan jawabannya oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah disini http://www.4shared.com/audio/qD_KpP5n/TJ-ApakahSeorangJandaJikaMenik.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 28. tiara  |  24/10/2010 at 3:19 pm

    Assalammualaikum wr.wb
    kakak saya perempuan menikah dg seseorang laki2 yg sdh beristri, krn pernikahannya secara sembunyi2 takut ketahuan istrinya.. maka kakak ipar saya (skrng menjadi kakak ipar ) memalsukan semua datanya.. dari statusnya; menjadi perjaka dan alamat rumah serta membawa saksi2 yg palsu jg..krn kelg kami (Ibu dan kakak2 saya yg lain tdk menyetujui hub kakak saya ini)
    perkawinan mereka sdh berjalan 10th dan selama itu selalu timbul mslh dg rmh tangga mereka, dari mslh keuangan sampai anak dari pihak kakak ipar saya (kebetulan dari perkawinan yg ini mereka tdk mempunyai anak) beberapa bln yg lalu kakak ipar saya berniat menceraikan istri pertamanya tp ternyata pihak istri pertama tidak mau sehingga banding sampai kekasasi…
    Yg menjadi pertanyaan saya…sah kah menurut hukum islam dan negara pernikahan yg dilakukan oleh kakak perempuan saya ini.. krn lama2 kakak perempuan saya menjadi gamang dan ragu2 ttg keabsahan pernikahannya…dan jalan apa yg harus mereka tempuh untuk meluruskan smua ini…apakah kakak perempuan saya harus bercerai dl..kemudian kalo urusan perceraian suaminya dg istri pertamanya selasai dia bs menikah lagi ato bagaimana…terus terang perkawinan kakak permpuan saya selama ini penuh dg kendala dan tdak berkah…apakah ini dikarenakan cara menikah yg salah jg…? mohon jwbannya…terima kasih..
    wassalammualaikim wr.wb..


    Jawab

    Dijawab oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc.

    Waalaikumussalam warohmatullah wabarokatuh

    Jawaban atas pertanyaan saudari Tiara.

    Mengenai perkawinan kakak perempuan saudari dengan laki-laki tersebut, sudahkah telah terpenuhi syarat-syarat pernikahan tersebut secara agama atau belum, yaitu persyaratan adanya wali yang menikahkan, saksi dan maharnya. Wali yang dimaksud adalah ayah perempuan tersebut, bila telah meninggal maka kakeknya atau saudara laki-laki perempuan tersebut misalnya. Dan saksi yang dimaksud adalah minimalnya 2 laki-laki, yang baik dan jujur, bisa dipertanggung jawabkan persaksiannya. Bila ini terpenuhi dengan ijab dan qobulnya maka sah. Tidak dipersyaratkan harus cerai dulu dengan istri pertamanya. Tetapi kalau syarat-syarat diatas tidak terpenuhi maka tidak sah. Akan tetapi suami tersebut tetap berdosa dalam hal pemalsuan data-datanya. Adapun kalau dari sisi pandang hukum negara saya kurang tahu.

    Adapun kemelut dalam keluarga, bila mana perkawinannya sah, maka penyebabnya bukan dari sebab perkawinan itu, tapi mungkin saja dari sisi-sisi lain, mungkin ketidak jujurannya, dan pemalsuan datanya, kurangnya tanggung jawab, kurang bisa mengatur keluarga, dan kurang menyayangi mereka, atau mungkin dari pihak istri yang kurang sabar, tidak mau terima dan tidak mau tahu, atau yang lain. Yang jelas kalau mau memperbaiki keluarga tentunya harus ada perbaikan secara menyeluruh, dan masing masing punya niatan yang baik, dan senantiasa bertaubat kepada Allah serta memohon pertolonganNya.

    Like

    Reply
  • 29. hamba ALLAH  |  21/10/2010 at 3:19 pm

    Assalamualaikum

    saya seorang istri , yang saya tanyakan adalah:
    1. apa hukumnya jika seorang suami sudah mengatakan kepada istrinya lebih baik kita pisah saja
    2. apakah kata-kata lewat sms yang bunyinya mulai sekarang kamu bebas melakukan apa saja, silakan pergi tidak perlu pamit karna saya bukan siapa siapa lagi bagi kamu adalah termasuk memenuhi jatuhnya talak untuk seorang istri, meskipun suami tidak tahu hukumnya menurut agama
    3. apakah hukumnya jika istri tetap menganggap suami dan melayani sebagai suami istri terhadap suami yang sudah melakukan apa yang disebut di no 1 dan 2 diatas.
    saya sangat mengharapkan jawaban ini untuk status saya,
    dan saya mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan

    wassalamualaikum


    “Wa’alaykumussalam warahmatullah,

    Silahkan download dan dengar jawabannya oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah disini http://www.4shared.com/audio/UIoZAnTq/TJ-MasalahTalakOlehSuamiKpdIst.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 30. Han  |  18/10/2010 at 2:46 pm

    Assalammualaikum.
    Saya mau tanya Ustad.
    Saya tinggal di penginapan, di penginapan itu ada 3 buah kamar mandi untuk mandi para tamunya bergantian dan kamar mandi itu ada 1 buah drum untuk menampung airnya, ukuran drum itu seukuran drum oli. drum itu diisi oleh yang punya penginapan waktu pagi, siang dan sore dan setelah drum penuh airnya dimatikan. Yang saya tanyakan syah atau tidak mandi wajib saya kalau saya mandi wajib disitu, karena saya yakin air yang ada dalam drum itu sering kecripatan air, atau sabun ketika mandi dan sering tersentuh tangan….?
    Terima kasih.
    Wassalammualaikum.


    “Wa’alaykumussalam warahmatullah,

    Silahkan download dan dengarkan jawaban oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah disini http://www.4shared.com/audio/OHEHsXOo/TJ-MandiWajibDiBakMandiYangTer.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 31. handoko  |  14/09/2010 at 1:42 pm

    saya sdh lama menikah, tp blm dikaruniai anak.ketika saya bertanya pada seseorang katanya untuk mempercepat kehamilan istri saya dianjurkan untuk mencari kelapa muda di jalur pantura.kelapa muda tersebut harus menghadap ke timur dan harus dipetik secara langsung. juga tidak boleh jatuh ke tanah serta tidak boleh dilangkahi.dan ketka membukanya harus di depan istri saya dan harus segera diminum.pertanyaan saya apakah jika saya melakukannya termasuk syirik?mohon penjelasannya


    “Silahkan mendownload Audio & mendengarkan jawabannya pada link berikut http://www.4shared.com/audio/OuPPZNn3/Al-Ustadz_Abu_Muawiyah_-_Tenta.html

    Semoga Bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 32. lea  |  26/08/2010 at 9:29 pm

    Assalamualaikum,
    Apakah di Quran dijelaskan harus ada/berdiri Negara Islam?
    Apakah seorang muslim masih dapat dikatakan muslim (tidak murtad) jika dimakamkan secara non Islam?
    terima kasih


    “Wa’alaykumussalam warahmatullah,

    Silahkan untuk mendownload Audio & mendengarkan jawabannya pada link berikut http://www.4shared.com/audio/G3liMm1d/Al-Ustadz_Abu_Muawiyah_-_Tanya.html

    Semoga bermanfaat.”

    Like

    Reply
  • 33. eka  |  12/08/2010 at 11:32 am

    Assalamu Alaikum WR.WB

    Saya seorang istri yang baru menikan 2 tahun. sebelumnya saya meminta maaf bila pertanyaan ini sebenarnya kurang pantas untuk di pertanyakan namun masalah ini menjadi pertanyaan dan hati gelisah saya selalu. Sebelumnya saya harapkan bantuannya semoga dapat membantu.
    Saya membaca Al-Quran bahwa berhubungan intim dengan suami itu di bulan ramadhan itu di izinkan. namun saya tidak mengethui tepat waktu yang di perbolehkan untuk melakukan itu, karna kekhilafan kami berdua pada saat siang hari kami melakukan itu dan saya mencari info kesana – kemari tentang masalah ini tidak mendapatkan penjelasan yang kurang saya fahami.
    Jadi apakah yang harus saya lakukan untuk membersihkan dosa tersebut karna yang saya dengar bahwa melakukan hal itu di siang hari tidak bisa hanya cukup di bayar dengan membayar hutang puasa saja.
    Saya harapkan penjelasannya supaya saya lebih mengeti akan hal ini.

    Wassalam.

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Berdasarkan pertanyaan anda, bahwasanya berhubungan suami-istri (Jima’) di siang hari secara sengaja pd bulan puasa merupakan salah satu pembatal puasa yg disepakati oleh para ‘Ulama. Berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’.

    Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekarang silakan kalian menyentuh mereka (istri kalian) dan carilah apa yang Allah telah tetapkan untuk kalian. Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

    Adapun dari hadits, maka sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits qudsi:

    يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ

    “Dia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
    Ijma’ akan hal ini telah dinukil oleh sejumlah ulama, di antaranya: Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (733), Ibnul Mundzir dalam Al-Isyraf dan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (3/14)

    Berdasarkan kedua dalil di atas serta ijma’ di kalangan ulama.

    Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughni (3/27), “Tidak ada perbedaan antara kalau kemaluannya itu adalah qubul maupun dubur, dari laki-laki maupun wanita, dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’i.” An-Nawawi juga mengatakan dalam Al-Majmu’ (6/341-342), “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i serta teman-teman kami semuanya sepakat bahwa melakukan hubungan intim dengan wanita pada duburnya, liwath dengan anak kecil (sodomi) atau lelaki dewasa (homoseksual), itu hukumnya sama dengan melakukannya dengan wanita di qubulnya.”

    An-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu’ (6/341), “Melakukan jima’ dengan zina atau yang semacamnya, atau nikah fasid, atau melakukannya dengan budaknya atau saudarinya atau anaknya, wanita kafir, dan wanita lainnya, semuanya sama dalam hal membatalkan puasa, wajibnya qadha, kaffarah, dan menahan diri pada sisa siangnya. Dan ini tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.”

    Kami katakan: Kecuali pada pewajiban qadha`, karena padanya ada perbedaan pendapat sebagaimana yang akan disebutkan, dan yang benarnya itu tidak diwajibkan.

    Setelah melakukan jima’ di siang hari di bulan puasa, anda dan suami dituntut untuk membayar kaffarah. Adapun untuk hal ini, anda bisa membacanya secara detil pd link berikut ini http://al-atsariyyah.com/fiqh/seputar-kaffarah.html

    Sumber rujukan : http://al-atsariyyah.com/fiqh/pembatal-puasa-yang-disepakati.html

    Like

    Reply
  • 34. thoriqoh  |  20/07/2010 at 10:32 am

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh. Ustadz Bgmn hukum memakai cincin/kalung magnet untuk kesehatan, saya bingung karena ada yang membolehkan dan ada yang melarang.


    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Jika gelang dipakai dengan maksud kesehatan seperti gelang magnet, bioVir, dan seterusnya maka: Kalau memang terbukti secara klinis maka insya Allah tidak mengapa karena tidak ada dalil yang melarang berobat dengan cara seperti ini. Tapi jika dipakai bukan dengan maksud kesehatan maka sebaiknya ditinggalkan karena khawatir termasuk ke dalam tasyabbuh (penyerupaan) kepada wanita. Wallahu a’lam

    Sumber : http://al-atsariyyah.com/akhlak-dan-adab/adab-berpakain-dan-berhias.html

    Like

    Reply
  • 35. pupung  |  18/06/2010 at 1:19 am

    Kalo ada suami yang bener2 sayang banget sama istrinya, saking terlalu sayangnya si suami merasa sayang untuk bersetubuh dengan istrinya. Tapi si suami takut bila istrinya marah. Selain itu si suami tidak terlalu suka (maniak) dengan hubungan seks. Berarti apakah si istri telah dizalimi dan berhak mengajukan cerai ???
    Apakah seharusnya suami tersebut sebaiknya memberikan istrinya hubungan seks apabila diminta di dalam islam???
    Bagaimana jika sebelum menikah si suami sudah memberitahu hal tersebut bahwa dia tidak terlalu hobi untuk melakukan hubungan seks dan si istri pada saat itu tidak mempermasalahkannya, tetapi bagaimana bila setelah menikah si istri malah mempermasalahkannya ?????

    Maaf bila pertanyaannya agak aneh

    Jawaban pertanyaan anda :

    Saudara penanya yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, prilaku suami seperti yang anda tanyakan adalah sikap suami yang keliru. Kalau seandainya suaminya itu mencintai istrinya seharusnya dia menunaikan kebutuhan istrinya karena hal itu dapat menyenangkan dan membahagiakan orang yang dicintainya disamping dapat melanggengkan cintanya dan cinta istrinya kepadanya. Menunaikan hubungan badan dengan istrinya merupakan kebutuhan yang sangat pokok bahkan hal itu merupakan diantara tujuan yang paling besar seseorang untuk menikah sebagaimana dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah maka menikahlah dikarenakan dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan dan barangsiapa tidak mampu menikah maka baginya untuk berpuasa hal itu sebagai tameng (dari perbuatan zina –penj) baginya “ ( HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu )

    Berkata Asy Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al-Utsaimin Rahimahullah : ” Diantara keutamaan menikah adalah dengan menikah dapat menjaga kemaluan dirinya dan istrinya dan menjaga pandangannya dan pandangan istrinya, kemudian setelah keutamaan itu lalu dalam rangka memenuhi kebutuhan syahwatnya ” ( Syarhul Mumti’ Jilid 12 hal : 10 )

    Maka dari itu seorang suami harus memenuhi kebutuhan biologis istrinya apalagi ketika istri memintanya, ini menunjukkan bahwa istri sedang menginginkan hal itu. Sudah seyogyanya seorang suami mempergauli istrinya dengan cara yang baik sebagaimana Allah Ta’ala berirman :

    وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ

    … Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut…” (Qs. An Nisa’ : 19)

    Maka saya nasehatkan bagi suami yang bersikap dengan sikap diatas untuk berfikir dan merenung kembali tujuan seseorang untuk menikah, diantara tujuannya adalah sebagai berikut :

    Pertama : Dalam rangka menunaikan perintah Allah

    Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

    فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

    Maka nikahilah wanita-wanita yang lain yang kamu senangi “ ( Qs. An Nisa’ : 3 )

    Kebahagian dan ketenangan hati orang – orang beriman hanyalah dengan mentaati Allah dan Rasul Nya

    Kedua : Dalam rangka menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan cara yang halal antara laki-laki dan perempuan.

    Ketiga : Untuk meraih ketenangan jiwa yang menjadi keinginan setiap orang.

    Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

    وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Qs. Ar-Ruum : 21).

    Ketiga : Dalam rangka menjaga diri dari perbuatan maksiat

    Berkata Asy Syaikh Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : “ Wahai manusia bertaqwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa menikah terkandung didalamya kebaikkan yang sangat banyak, diantaranya kesucian suami istri dan terjaganya mereka dari terjatuh kedalam perbuatan maksiat, Rasullullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah maka menikahlah dikarenakan dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan “ Al Hadist ( Khutbatul Mimbariyah Fil Munaasibaatil ‘Asriyah, Syaikh Shaleh Al Fauzan : 242 )

    Keempat : Dalam rangka mendapatkan keturunan dan melestarikan keturunan dan membina rumah tangga yang didalamnya menjadi tempat mendidik anak mencurahkan kasih sayang dan kelembutan kepadanya.

    Adapun bagi seorang istri yang mengalami perlakuan seperti ini hendaklah shabar dan berusaha untuk berbicara dari hati ke hati sama suaminya apa yang diinginkannya. Waallahu ‘alam

    Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua dan kaum muslimin kepada apa-apa yang dicintai dan diridhaiNya dan memperbaiki keadaan kita dan kaum muslimin seluruhnya. Amin.

    dijawab oleh Al-Ustadz Abdullah Joko -hafidzahullah-

    Like

    Reply
  • 36. habibi  |  16/06/2010 at 10:32 am

    Assalamualaikum. Wr. Wb.
    Rekan Redaksi yang di Rahmati Allah,

    Di dalam al Quran begitu banyak di sebutkan bahwa Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba yang di kehendakiNya. Firman Allah dalam surat An-naml ayat, 36,82,93 dan masih banyak Firman Allah yang lain yang menyebutkan kekuasaanNya atas kehendakNya. yang ingin saya tanyakan:

    1. Jika Allah memilih hambaNya yang ingin diberikanNya petunjuk, bagaimana dengan mereka yang Allah tidak memilih mereka yang di beri petunjuk oleh Allah, tentu mereka akan membantah saat akan di lemparkan ke dalam neraka, Ya Allah bagaimana munkin aku Engkau cammpakkan ke dalam nerakaMu sementara engkau tidak memberikan aku petunjukMu.

    2. di dalam surat At-thaha ayat 43, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berd’wah kepada fir’aun, dan di ayat berikutnya Allah menyebutkan lagi “mudah-mudahan ia ingat atau takut” apa kah ini berarti ada peran akal, hati dan jasad manusia dalam mendapatkan pentunjuk, jika benar, bukan kah Allah memilih hamba yang dia kehendaki.

    demikian pertanyaan saya,
    Terima Kasih

    ‘asta’firullah hal ‘adhiem”
    ampunilah hambamu ini ya Allah, aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.

    Wassalam,
    Habibi Ibrahim
    reply to my email plz. t qiu

    —————————————————————————————————————————

    1. Allah tidak akan ditanya apa yang Dia perbuat. justru kita yg akan ditanya. karena kita punya kemampuan untuk tunduk dan taat kepada Allah

    2. sama seperti pertanyaan no.1 diatas karena maksud pertanyaannya juga sama. dalilnya surat al anbiyaa’ ayat 23.

    Like

    Reply
  • 37. Abu salman  |  08/04/2010 at 5:43 pm

    Bismillah
    Assalamualaykum warohmatullah wabarokatu,

    ana mo tanya kepada afwan,ahwat sekalian dimana di jabotabek
    sekolah sdi sampai smpi terpadu atau bording yg bermanhaj salaf kalau ada yang sekitar jakarta selatan

    Jazakumullah khaer

    Like

    Reply
  • 38. latifah  |  05/04/2010 at 7:01 pm

    Bagaimankaah aqidah orang yang menggunakan hadist dhoif untuk berdakah dengan alasan hadis itu baik maknanya

    Like

    Reply
  • 39. ning mulyani  |  26/03/2010 at 8:19 am

    bismillah…
    kepada pengelola blog yang terhormat,,
    pertanyaan ana singkat saja,
    bolehkah seorang lelaki menikahi lebih dari satu wanita kakak beradik, dalam waktu yang bersamaan?


    Bismillah,

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

    “(Diharamkan atas kalian) menghimpunkan dalam pernikahan dua wanita yang bersaudara, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa`: 23)

    Ayat di atas menetapkan bahwa seorang lelaki tidak boleh mengumpulkan dua wanita yang bersaudara dalam ikatan pernikahan karena hal ini jelas akan mengakibatkan permusuhan dan pecahnya hubungan di antara keduanya. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Muhammad Jamil Zainu, hal. 16).

    Wallahu ta’ala ‘alam

    Sumber : http://thullabul-ilmiy.or.id/blog/?p=20

    Like

    Reply
  • 40. ali  |  01/03/2010 at 10:19 pm

    assalamu’ alikum…
    ustadz sya mau nanyak apa hukumnya membangun kuburan, sprti di semen…….?


    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Hukum Membangun Kuburan

    Oleh: Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

    Pertanyaan:
    Saya perhatikan di daerah kami sebagian kuburan dicor dengan semen seukuran panjang 1 m dan lebar 1/2 m, dan dituliskan padanya nama mayit, tanggal wafatnya, dan sebagian kalimat seperti: “Ya Allah berilah rahmat kepada Fulan bin Fulan…”, demikian. Apa hukum perbuatan semacam ini?

    Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjawab:
    Tidak boleh membangun pada kubur, baik dengan cor ataupun yang lain, demikian pula menulisinya. Karena terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang larangan membangun di atas kuburan dan menulisinya. Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

    نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun.”
    Al-Imam At-Tirmidzi dan yang lain meriwayatkan dengan sanad yang shahih dengan tambahan lafadz:

    وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ

    “dan ditulisi.”
    Karena hal itu termasuk salah satu bentuk sikap berlebihan sehingga harus dilarang. Juga karena penulisan bisa menghantarkan kepada dampak yang parah berupa sikap berlebihan dan larangan-larangan syar’i lainnya. Yang diperbolehkan hanyalah mengembalikan tanah (galian) kubur tersebut dan ditinggikan sekitar satu jengkal sehingga diketahui bahwa itu adalah kuburan. Inilah yang sunnah dalam masalah kuburan dan ini yang dilakukan oleh Rasulullah n serta para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.
    Tidak boleh pula menjadikan kuburan sebagai masjid (yaitu tempat untuk shalat atau shalat menghadapnya, pent.). Tidak boleh pula mengerudunginya atau membuat kubah di atasnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

    “Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (Muttafaqun ‘alaih)

    Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum meninggalnya:

    إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

    “Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya sebagaimana menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku mau menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku tentu aku akan menjadikan Abu Bakr sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur nabi-nabi dan orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid karena sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan itu.”

    Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak.
    Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan taufiq-Nya kepada muslimin agar berpegang teguh dengan Sunnah Nabi mereka dan tegar di atasnya, serta berhati-hati dari segala yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat.
    (Mukhtarat min Kitab Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, hal. 228-229)

    Sumber : http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/12/hukum-membangun-kuburan/

    Like

    Reply
  • 41. Hamba Allah  |  23/02/2010 at 8:55 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    saya mau tanya,apakah semua sholat wajib ada qabliyahnya?
    apakah menahan kencing pada rakaat terakhir membatalkan sholat?

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Untuk penjelasan Shalat Qabliyah silahkan merujuk pada artikel berikut ini :
    http://sunniy.wordpress.com/2007/10/25/shalat-dua-belas-rakaat-dalam-sehari-semalam-akan-dibangunkan-untuknya-satu-rumah-di-surga/

    Untuk pertanyaan menahan kencing ketika shalat, hal ini pernah ditanyakan kepada guru Kami, Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain -hafidzahullah-. Berikut petikan tanya-jawabnya :

    Pertanyaan;

    Assalamu’alaykum ust abu muhammad,
    saya mau tanya kpd ust, apkh menahan kentut/menahan kencing/menahan BAB dlm shalat trmasuk membatalkan shalat? Dan apakah shalatx hrz d ulangi lg?

    Syukron atas jwbannya
    wasalamu’alaykum.

    Jawaban:Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

    Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sholat saat makanan telah siap dan tidak ada sholat saat seorang terdesak oleh dua (hadats) akan keluar.”

    Kata para ulama, sholat dianggap batal bila menahan angin atau air kecil dan air besar menyibukkannya dari sholat sehingga dia tidak bisa memahami apa yang dia baca atau meninggalkan kewajibannya. Kalau tidak, maka hukum menahannya adalah makruh dan tidak membatalkan sholat.

    Wallahu A’lam

    Sumber : http://pakisbintaro.wordpress.com/2009/02/23/tanya-jawab-menahan-kentut-saat-shalat/

    Like

    Reply
  • 42. kangtuji  |  06/02/2010 at 11:26 pm

    asalamualaikum……
    saya mau tanya.bagaimana mana pendapat anda tentang bom bali?apakah bisa di sebut sebagai jihad?


    “wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Alhamdulillah guru-guru kami sudah banyak menjelaskan tentang hal ini. Silahkan merujuk ke alamat-alamat website berikut ini :

    http://www.islambukanteroris.com
    http://www.merekaadalahteroris.com
    http://www.nasihatonline.wordpress.com

    Semoga bermanfaat. Barakallahu fiyk.”

    Like

    Reply
  • 43. Latifah  |  05/02/2010 at 2:31 pm

    Assalamualaiku warahmatullahi wabarakatuh
    Bagaimanakah hukum bekerja di pegadaian

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Pertama, dilihat terlebih dahulu apakah di kantor pegadaian tersebut terdapat praktek unsur riba di dalamnya (Seperti penerapan bunga, dll). Karena bila ada unsur riba di dalamnya, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk bekerja di perusahaan pegadaian sebagai pegawai ataupun lainnya. Sebab bekerja di situ termasuk ta’awun (kerjasama) di atas dosa dan permusuhan, dan ini dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

    “Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Ma`idah: 2)

    Wallahu’alam

    sumber rujukan : http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=423

    Like

    Reply
  • 44. muhammad priyanto  |  03/02/2010 at 10:47 am

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
    ustadz saya mau bertanya lagi, bagaimanakah hukum askes (asuransi kesehatan) yang diperuntukkan bagi pegawai , yang biayanya ditanggung oleh pemerintah dan tanpa mengurangi gaji pegawai tersebut, apakah asuransi jenis ini di bolehkan?mohon jawaban dari ustadz
    terimaksih atas jawabannya
    Semoga semua pihak yang berandil dalam dakwah ini dikaruniakan rezeki yang berlimpah dan penuh berkah, dan upayanya diterima sebagai amal shalih dalam dakwah.Amiin. wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Wallahu a’lam, kalau memang biayanya murni hibah dari pemerintah dan para pegawai tidak mengeluarkan biaya sepeserpun maka insya Allah itu tidak termasuk asuransi yang dilarang. Karena yang terlarang adalah seseorang menyetorkan sejumlah uang setiap bulan (misalnya) lalu ketika tertimpa musibah dia mendapatkan bantuan/asuransi, terkadang bantuannya lebih besar daripada uang yang telah dia setor dan jika tidak terjadi apa-apa padanya maka uangnya tidak kembali. Ini adalah maysir (semacam perjudian), yang mana maysir ini telah diharamkan berdasarkan nash Al-Qur`an.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=462&cpage=1#comment-917

    Like

    Reply
  • 45. thaha  |  02/02/2010 at 4:25 pm

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. ?

    Ustadz saya mau tanya ? mengapa ketika saya benar2 niat nikah lillahita’ala kog rasanya sulit sekali mencari jodoh ? padahal saya sudah berusaha dengan keras kesana kemari bahkan sampe pergoi ke dukun segala, saya sudah sholat lima waktu sholat tahajjud dan puasa senin kamis tapi megapa kog tiada hasil, mengapa Allah SWT masih belum jua mengabulkan doa dan usaha saya, kog malah dipersulit ? malah tambah sulit sekali dalam mecari jodoh sampe saya benar2 frustasi streesss ….!!!! tapi kenapa orang yang bermaksiat, orang yang berzina, melakukan pesta sex kog dipermudah oleh ALLAH SWT bahkan diberikan kenikmatan ? mengapa bisa begini ? mana keadilan ALLAH SWT pada hamba2Nya yang muslim ? mana janji-Nya akan mengabulkan doa setiap hambaNya ? apa yang harus saya lakukan ? mohon tausiayah dari ustadz ?

    waalaikumussalam warahmatullah.
    Jangan sekali-kali mengatakan: “Aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan,” karena ucapan seperti ini termasuk sebab terbesar tertolaknya doa. Setiap orang yang berdoa maka Allah telah berjanji untuk mengabulkannya, jika Allah tidak kabulkan apa yang kita minta maka:
    1. Mungkin kita melakukan maksiat besar yang bisa menghalangi diterimanya doa kita, misalnya ucapan ’saya sudah berdoa tapi tidak dikabulkan’ atau datang ke dukun yang merupakan kesyirikan, semua ini menjadi sebab doanya tidak dikabulkan
    2. Kita mengonsumsi makanan haram, atau sebab-sebab lainnya yang menyebabkan doa tidak terkabul.
    Maka tidak semua orang yang berdoa akan Allah kabulkan, yang dikabulkan hanyalah yang memenuhi syarat-syarat doa dan menghindari semua sebab tertolaknya doa.
    Adapun cara Allah mengabulkan doa maka ada 3 cara:
    1. Kadang diberikan apa yang dia minta.
    2. Kadang tidak diberikan apa yang dia minta tapi sebagai gantinya Allah melindunginya dari kejelekan.
    3. Disimpankan untuknya sampai hari kiamat.
    Baca pembahasan penting seputar doa di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1738, http://al-atsariyyah.com/?p=1734, dan di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1715.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=962#comment-901

    Like

    Reply
  • 46. muhammad priyanto  |  01/02/2010 at 1:00 pm

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
    ustadz ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:
    1. bagaimana hukum USG dalam ilmu kedokteran yang dalam praktiknya dokter bisa memprediksi apakah bayi yang dalam kandungan laki-laki/atau perempuan, apakah kita di bolehkan melakukan USG terhadap bayi yang dalam kandungan?
    2. apabila kita berjauhan dengan orang tua (di luar pulau), bagaimana cara kita berbakti kepada orang tua, apakah dengan menelpon ortu tiap pekan menanyakan kabar, itu sudah termasuk berbakti?sedangkan untuk berkunjung ke rmh ortu memerlukan biaya yang tidak sedikit sehingga hanya berkomunikasi dengan ortu lewat telepon
    3. bagaimana sikap kita apabila dalam shalat subuh, imamnya melakukan doa qunut tiap shalat subuh, apakah kita ikut mengangkat tangan sambil membaca Amiin/kita diam saja sampai imam selesai membaca qunut?
    4. apabila di suatu masjid shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat, apakah kita jg harus shalat tarawih 23 rakaat bersama imam?bolehkah saya shalat tarawih bersama imam sebanyak 8 rakaat kemudian witir di rumah?
    5. bolehkah bekerja di suatu sekolah yang didalamnya mengadakan perayaan-perayaan seperti maulid nabi, isro’ mi’roj, tahun baru hijriyah?
    mohon jawaban dari ustadz
    terimakasih atas jawabannya
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Insya Allah tidak bermasalah, selama yang melakukan USG bukan laki-laki dan tidak ada maksiat lain dalam pelaksanaannya. Wallahu a’lam.
    2. Insya Allah bisa dengan cara seperti itu, atau dengan mengirimkan hadiah kepada mereka, dan yang terutama adalah senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka, dan selalu mengamalkan amalan saleh, karena semua amalan anak akan mengalir kepada orang tuanya. Dan inilah bakti yang paling besar lagi hakiki, yakni sang anak taat kepada Allah agar orang tuanya juga mendapatkan pahalanya.
    3. Hal ini pernah ditanyakan kepada Guru Kami, Al-Ustadz Dzulqarnain -hafidzahullah-, bahwasanya sesuai dengan fatwa yang dikemukakan oleh Asy-Syaikh Shaleh Fauzan (Anggota Lajnah Daimah), makmum mengikuti imam dengan mengangkat tangan. Wallahu’alam
    4. Tidak boleh. Hal ini pernah ditanyakan kepada Guru kami, Al-Ustadz Abdul Barr -hafidzahullah-. Untuk lebih lengkapnya anda bisa melihat rekaman sumber dibawah.
    5. Sekolah yang merayakan perayaan seperti itu pasti mengamalkan pelanggaran syariat yang lain dan tidak hanya sebatas pada perayaan itu saja. Karenanya sebaiknya bekerja di sekolah yang lebih islami.

    sumber :
    1. http://al-atsariyyah.com/?p=259#comment-920
    2. http://al-atsariyyah.com/?p=1665#comment-921
    3. Rekaman tanya-jawab Al-Ustadz Dzulqarnain ketika muhadharah beliau dgn tema “Manhaj Menuntut Ilmu”, di Masjid Kampus UNJ, Rawamangun, beberapa waktu yg lalu. http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/ManhajMenuntutIlmuTANYAJAWAB_UstadzDzulqarnain.mp3
    4. Rekaman tanya-jawab Al-Ustadz Abdul Barr ketika ta’lim rutin di masjid Al-I’tisham, Sudirman, Jakarta.
    http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/HukumMeninggalkanJamaahDitengahShalatTarawih11atau23RakaatBerlangsung.mp3
    5. http://al-atsariyyah.com/?p=1665#comment-921

    Like

    Reply
  • 47. eko  |  31/01/2010 at 1:54 pm

    assalamualaikum.
    afwan apakah ada rekaman lanjutan tentang kitabul hajji oleh ustadz dzulqornain? saya sudah download dari hari pertama sesi 1 -sesi 5 sampe hari ke dua sesi1- sesi ke5 saja. disana belum sampe pada kesimpulan. kalau ada saya mohon izin download untuk mempelajarinya.
    afwan jazakalloh khoir


    Wa’alaykumussalam warahmatullah,
    wallahu’alam. Setau kami, blog yg meng-upload kan nya, memang belum lengkap file2nya.

    Like

    Reply
  • 48. Abdullah  |  30/01/2010 at 5:12 pm

    Afwan ustadz ana masih bingung. berarti hadits tentang larangan mencukur dan mencabut alis hanya berlaku kepad wanita saja. dan tidak berlaku kepada pria.

    “allahu a’lam, itu adalah hal yang terlarang berdasarkan dalil-dalil umum larangan mencabut/menggunting alis, karena larangan ini berlaku bagi lelaki dan wanita.
    Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah bahwa para ulama menyebutkan bahwa sebab larangan dari mencabut alis adalah karena merubah ciptaan Allah, dan larangan merubah ciptaan Allah ini berlaku bagi lelaki dan wanita.
    Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan Iblis, “Dan akan aku suruh mereka lalu benar-benar mereka mengubah penciptaan Allah.” (QS.An-Nisa’:119).
    Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas, “Ayat ini mencakup larangan mengubah ciptaan yang bersifat zhahir, yaitu: mentato, mencukur alis, merapikan gigi agar bagus dan sebagainya. Mereka telah terpedaya oleh setan sehingga mereka pun mengubah ciptaan Allah.” (Tafsir Karim Ar-Rahman hal. 209).
    Imam Ibnul Arabi rahimahullah berkata, “An-Namishoh adalah wanita yang mencabut rambut untuk berhias. Ini termasuk mengubah citaan dan mengubah tabiat, haram hukumnya.” (Ahkamul Qur’an:1/501).
    Wallahu a’lam.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=219&cpage=1#comment-861

    Like

    Reply
  • 49. Irwan  |  30/01/2010 at 3:05 pm

    Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuhu Ustadz…
    ana mau tanya jika kita masbuq (telat) dalam sholat untuk menentukan dapatnya/sempurnanya satu rakaat bagi kita ketika sholat telat tsb: apakah ketika kita mendapati ruku’ bersama imam atau harus ikut membaca alfatihah bersama imam sehingga kita baru dianggap dapat satu rakaat…???

    “Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu
    Pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwa yang menjadi patokan dia mendapat satu rakaat adalah dia membaca Al-Fatihah bersama imam -berdasarkan keumuman dalil tidak syahnya shalat orang yang tidak baca al-fatihah-, bukan ruku’ bersama imam. Silakan baca artikel yang berkenaan dengannya serta lihat juga beberapa komentar di bawahnya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1538

    DIjawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=1635#comment-867

    Like

    Reply
  • 50. Abdullah  |  27/01/2010 at 12:46 pm

    Bismillah
    Assalamu’alaikum
    Ustad -barakallahufiku- ana mau mau menyampaikan pertanyaan teman ana yang sedang bekerja di bank. dia bertanya seperti ini “Saya baru masuk dan bekerja disini belum samapi 3 bulan. dan saya tidak mempunyai penghasilan dari apapun kecuali disini. sedangkan saya tidak mampu untuk menafkahi hidup saya sekarang. apakah saya wajib keluar dan kembali menganggur hingga menunggu ada lowongan lagi atau saya terus bekerja hingga saya mendapatkan perkejaan yang halal?” ana menunggu jawabannya di Email ana agar dapat meneruskan kepada sahabat ana. jazakallah khair.

    “Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak diperbolehkan seseorang bekerja di dalam bank-bank ribawi dengan dua alasan:
    1. Dia akan terkena laknat.
    Dari Jabir bin Abdillah -radhiallahu anhu- dia berkata:
    لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Beliau bersabda “Mereka semua sama.” (HR. Muslim no. 2995)
    Dan tidak diragukan bahwa gaji para pegawai bank dari atasan sampai satpamnya adalah berasal dari riba, sehingga dia terkena laknat karena memakan riba.

    2. Dia ridha terhadap praktek riba dan cukuplah menunjukkan rusaknya hati tatkala dia ridha dan rela terhadap maksiat yang terjadi.
    Karenanya kami sarankan agar secepatnya dia keluar, adapun gaji yang selama ini dia dapatkan dalam keadaan jahil tentang hukum bank maka insya Allah halal untuk dia manfaatkan.
    Ingatlah bahwa rezeki dan rahmat Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga jangan sampai ada orang yang berburuk sangka kepada Allah bahwa rezeki-Nya hanya bisa didapatkan dari jalan yang haram. Diriwayatkan dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:
    أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
    “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah cara kalian mencari rezeki, karena sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi rizkinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah cara kalian mencari rezeki, ambilah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya dari Jabir bin Abdillah)
    Dan juga beliau bersabda dalam hadits Abu Said riwayat Muslim, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Dia akah menggantikan untuknya dengan sesuatu yang lebih baik.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah -hafidzahullah-
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=1625&cpage=1#comment-836

    Like

    Reply
  • 51. nia  |  27/01/2010 at 11:20 am

    Sekarang ini banyak tersebar di masyarakat kalung/gelang yang mengandung magnet/infra merah yang bisa untuk menghilangkan penyakit atau untuk kesehatan yang mana hal ini didakwakan telah melewati penelitian. Apakah hukum menggunakannya? Apakah hukumnya sama dengan pemakaian obat?

    “Ala kulli hal. Kalau memang kalung/gelang tersebut terbukti secara klinis mempunyai hubungan sebab akibat, maka insya Allah itu tidak mengapa menggunakannya dan hukumnya sama seperti memakan obat. Wallahu a’lam.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=1632&cpage=1#comment-831

    Like

    Reply
  • 52. akhwat  |  25/01/2010 at 8:05 pm

    assalamu’alaikum
    saya mau menanyakan perihal shalat…
    saya seorang pelajar yang les setiap sore, saya berangkat les jam 02.30 dan pulang 18 lewat
    saya ingin bertanya apakah boleh melakukan shalat ashar digabung dengan shalat zhuhur??? , disekolah memang tersedia tempat shalat tapi saya lebih nyaman melakukan shalat dirumah.
    terima kasih…

    “Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak boleh, tetap wajib mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya, apakah di tempat les atau di masjid/mushalla dekat situ. Barangsiapa yang mengundurkan shalat sampai keluar waktunya maka dia berdosa dan dianggap telah meninggalkan shalat tersebut dengan sengaja dan tidak ada kewajiban untuk mengqadha.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah -hafidzahullah-

    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=152&cpage=1#comment-813

    Like

    Reply
  • 53. imas munawwaroh  |  25/01/2010 at 3:50 pm

    mohon penjelasan tentang batas aurat wanita, apakah punggung tangan atau tangan bagian atas itu termasuk aurat wanita?terimakasih

    “Silahkan anda akses link berikut :

    http://ruanghakim.wordpress.com/2008/07/12/jilbab-dan-batasan-aurat/
    http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/11/batasan-aurat-wanita-muslimah/

    Like

    Reply
  • 54. putut agus prasetyo  |  24/01/2010 at 6:15 pm

    Assalamualaikum…
    salam kenal, nama saya putut. langsung pada pokoknya, saya ingin menanyakan mengenai amarah. banyak kita pelajari bahwa disaat kita mengalami emosi yg memuncak maka segeralah mengambil air wudhu dan bersembahyang. yang ingin saya tanyakan, bagaimana dengan wanita?
    disaat wanita sedang mempunyai masalah sehingga menyebabkan amarah tak terkendali, bersamaan pula padasaat itu dia sedang mendapat tamu (datang bulan). apa yang dapat kita sarankan krn setahu saya wanita yg mengalami masa haid diharamkan sholat??
    mohon petunjuknya, terima kasih.
    wassalamualaikum wr.wb.

    (mohon jawaban dikirim ke e-mail, terima kasih)

    “Waalaikumussalam warahmatullah.
    Selain shalat, ada beberapa perkara lain yang bisa ditempuh oleh guna menghilangkan atau memperingan amarah. Di antaranya:
    1. Membaca ta’awudz, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Sulaiman bin Shurad riwayat Al-Bukhari.
    2. Berwudhu walaupun tidak mengerjakan shalat.
    3. Merubah posisi, jika dia marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya dia duduk atau berbaring, dan seterusnya.
    4. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah bersabar dan mengingatkan dirinya akan takdir Allah. Bahwa segala sesuatu yang telah terjadi adalah takdir dan tidak mungkin bisa dirubah, sehingga kewajiban bagi hamba hanyalah menerima dan bersabar.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah.”

    Like

    Reply
  • 55. latifah  |  22/01/2010 at 1:17 pm

    bagaimana aurat wanita ketika shalat?

    “Silahkan anti baca artikel berikut ini http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/14/pakaian-wanita-dalam-shalat/

    Like

    Reply
  • 56. latifah  |  20/01/2010 at 8:25 pm

    Assalamualaykum

    Bagaimanakah derajat hadist shalat hajat dan shalat tasbih?


    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Untuk shalat tasbih, anda bisa melihat penjelasan lengkapnya disini http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Hadits&article=71

    Untuk shalat hajat, bisa dilihat jawaban dari Al-Ustadz Dzulqarnain disini http://pakisbintaro.wordpress.com/2009/01/26/tanya-jawab-adakah-shalat-hajat/

    Like

    Reply
  • 57. Ricke  |  20/01/2010 at 1:43 pm

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Bagaimana kewajiban dan hak istri apabila suaminya menderita sakit yg lama, sehingga si suami tidak dapat menafkahi lahir & batin istrinya? apakah istri berkewajiban untuk mencari nafkah sebagai pengganti suami? ataukah orang tua si suami yg pada hal ini mampu untuk memberi bantuan?

    Semoga ustadz dpt memberi jawaban atas pertanyaan diatas.
    Terima kasih.

    Wassamu’alaikum wr.wb

    “Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ala kulli hal, hendaknya semua pihak keluarga -baik istri maupun orang tua suami, dan selainnya- hendaknya mereka saling membantu agar masalah keuangan yang dihadapi bisa diselesaikan.
    Tidak ada masalah seorang muslimah untuk bekerja selama memenuhi ketentuan yang digariskan oleh syariat. Ketentuannya bisa dilihat di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1603

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=1594#comment-780

    Like

    Reply
  • 58. ruwaidi  |  17/01/2010 at 9:12 pm

    Bismillah
    gimana sikap kita thd tahdzir syaich robi’ thd syaich ali hasan ,jazakallah atas jawabanya

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah

    “Kita2 sebagai penuntut ilmu tidak punya hubungan dengan apa yang terjadi di kalangan ulama, dan insya Allah kita tidak akan ditanya pada hari kiamat mengenai hal itu. Yang jauh lebih penting bagi kita adalah mendalami hukum2 thaharah, shalat, puasa, zakat, jual beli, pernikahan, dan selainnya dari hal-hal yang akan dimintai pertanggungjawaban.
    Jawaban ini berlaku untuk kami pribadi dan kepada segenap penuntut ilmu kapan dan dimanapun. Wallahul muwaffiq.

    sumber : http://al-atsariyyah.com/?page_id=6 pertanyaan no.137″

    Like

    Reply
  • 59. ruwadi  |  17/01/2010 at 9:05 pm

    bismillah
    bolehkah zakat mal dipergunakan untuk membangun pondok atau yang lainnya?jazakallah khoir atas jawabanya

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah :

    “Tidak boleh, karena yang berhak menerima zakat hanyalah kedepalan kelompok yang tersebut dalam Al-Qur`an. Allah Ta’ala berfirman:
    إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 60)
    Sudah jelas, pembangunan ponpes tidak termasuk ke dalam ayat di atas. Adapun menggolongkannya ke ‘jalan Allah’, maka itu tidak tepat. Karena yang dimaksudkan dengan ‘jalan Allah’ (fisabilillah) dalam ayat ini hanyalah berjihad dengan senjata di jalan Allah. Silakan baca keterangannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=95

    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=909&cpage=1#comment-752

    Like

    Reply
  • 60. Haryanti  |  13/01/2010 at 7:10 am

    Asslm. ust mf mo nya kalo seorang wanita ikut KB suntik trus haidnya hampir 1 bln apakah termasuk haid atau istiadhah bagaimana membedakannya atau ada gejala lainnya selain dari itu. trims Wsslm.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah :

    “Dia berpatokan pada jadwal rutin haidnya sebelum ikut KB suntik, yakni ketika haidnya masih normal. Darah yang keluar sebelum dan setelah masa jadwa haid normalnya, bukanlah darah haid. Akan tetapi dia dihukumi istihadhah atau darah kotor yang bukan najis dan tetap wajib mengerjakan shalat.

    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=791&cpage=1#comment-714

    Like

    Reply
  • 61. Imam Munawar  |  11/01/2010 at 7:18 pm

    assalamualaikum,
    maaf saya mau nanya apa isi kandungan surah al-insyirah

    “Wa’alaykumussalam warahmatullah,

    silahkan anda mendengarkan kajian berikut http://problemamuslim.wordpress.com/2009/06/15/tafsir-surat-al-insyirah/

    Like

    Reply
  • 62. dedy  |  11/01/2010 at 2:57 pm

    apa orang yang safar boleh meninggalkan sholat berjamaah
    padahal terdengar azan olehnya.

    Dijawab oleh Al Ustadz Abu Muawiah :

    “Shalat jamaah adalah wajib bagi setiap lelaki baik dia dalam keadaan muqim maupun safar. Berdasarkan sabda beliau kepada Malik bin Al-Huwairits ketika mereka akan pulang ke negeri mereka, dan tentunya ketika itu mereka akan melakukan safar:
    ارْجِعُوا فَكُونُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَصَلُّوا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ
    “Kembalilah kalian kepada mereka, bergabunglah bersama mereka, ajari mereka dan shalat bersama mereka. Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaklah yang mengimami shalat kalian adalah yang paling tua di antara kalian.” (HR. Al-Bukhari)
    Dari sini para ulama menyatakan tetap wajibnya musafir untuk mengerjakan shalat jamaah.”

    Like

    Reply
  • 63. wadagh  |  10/01/2010 at 10:19 am

    mohon maaf pak ustad, saya baru dalam proses belajar agama, mau tanya apakah semua surat-surat dalam al-qur’an itu kandunganya saling kait atau tidak, atau mungkin ada yang bertentangan antara ayat satu dengan ayat yang lainnya? mohon pencerahan dan terima kasih sebelumnya.

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah :

    Tidak mungkin ada satupun ayat yang bertentangan dengan ayat lainnya, karena Allah telah menjaga kitab-Nya dari perselisihan dan menyifatinya sebagai penjelas segala sesuatu (tibyanan likulli syay`in). Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Seandainya Al-Qur`an itu datang dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan perbedaan yang sangat banyak di dalamnya.”
    Kalaupun ada dua ayat atau lebih yang lahiriahnya bertentangan, maka pasti bisa dikompromikan/dipadukan sehingga menjadi tidak bertentangan. Atau kalau tidak bisa dikompromikan maka salah satu dari ayat tersebut pasti ada yang mansukh (terhapus hukumnya). Wallahu a’lam.

    sumber : http://al-atsariyyah.com/?page_id=6 No.125″

    Like

    Reply
  • 64. hanz  |  09/01/2010 at 6:52 pm

    apakah hukumnya anak yang dilahirkan. setelah melakukan hubungan di luar nikah…

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah -hafidzahullah-

    “Hukumnya anak ‘haram’ dan berlaku padanya hukum:
    a. Dia (anak itu) dinisbatkan kepada ibunya dan bukan kepada ayahnya. Yang kami maksud dengan ayahnya di sini adalah lelaki yang menghamili ibunya.
    b. Dia dan ayahnya tidak saling mewarisi.
    c. Ayahnya tidak wajib memberikan nafkah kepadanya, walaupun boleh saja kalau dia mau.
    d. Dia (jika dia anak perempuan) bukanlah mahram bagi ayahnya.
    e. Ayahnya tidak bisa menjadi wali baginya (jika dia anak wanita) dalam pernikahan.
    Wallahu a’lam”

    Like

    Reply
  • 65. abu panji  |  05/01/2010 at 8:53 am

    Assalamualaikum, barakallahu fikum,
    Di tempat perusahaan saya bekerja ada kebiasaan setiap habis libur Iedul Fitri dan tahun baru ada pengarahan dari Management dengan di ikuti doa bersama dan bersalam-salaman serta ada makanan dan minuman ringan.
    Mohon penjelasan bagaimana hukumnya mengikuti acara tersebut dan bagaimana sikap yang harus saya lakukan
    jazakallah khoiron,

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah -hafidzahullah-

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Adapun jika pengarahannya memang dibutuhkan oleh setiap pegawai, maksud ana pengarahan tentang manajemen kerja atau yang berkenaan dengan kelangsungan perusahaan, maka insya Allah tidak ada masalah menghadiri hal tersebut, walaupun waktunya bertepatan dengan hari tertentu.
    Adapun doa bersama pada waktu seperti itu tidaklah disyariatkan, karenanya hendaknya dia diam saja dan tidak ikut berdoa.
    Adapun bersalam-salaman serta makan dan minum, maka hal itu diperbolehkan ketika idul fithr, tentunya selama tidak ada ikhtilath dan tidak menyentuh yang bukan mahramnya.
    Jadi yang bermasalah hanyalah jika arahan tersebut tidak ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan tapi itu hanya dijadikan alasan agar semuanya berkumpul untuk merayakan tahun baru. Maka yang seperti ini hendaknya dia tidak ikut menghadirinya karena perayaan tahun baru merupakan adat orang kafir yang seorang muslim harus menjauhinya, wallahu a’lam.”

    Like

    Reply
  • 66. irwan  |  04/01/2010 at 2:49 pm

    Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuhu

    Ustadz tanya lagi ya.. (jangan bosan2 ya ustadz ana masih awam dalam agama dan khususnya lg pemahaman agama sesuai sesuai manhaj salafush-soleh, alhamdulillah ana bersyukur dipertemukan dengan situs ini)

    1.apakah boleh bagi kita menjadi makmum ( & bagaimana hukum sholat kita) bagi imam yg sholatnya “kurang” mengikuti Sunnah seperti tidak bersutroh ??
    2. Ketika Solat Sunnah Rawatib atau sholat apapun bolehkah bagi kita bersutroh kpd orang yg dia sendiri tidak bersutroh???
    3.Apakah ada batasan sutroh seseorang yg tidak bersutroh (maksud saya ketika ada seorang muslim sholat ditengah2 mesjid & menyebabkan org lain sulit utk lewat kluar mesjid, apakah ada jarak tertentu didepan dia yg boleh kita lewati didepannya tsb utk keluar dari mesjid) ???
    4.Apakah ada beda nilai pahala antara solat disurau/mushalla dengan sholat dimesjid (kecuali 3 mesjid yg sudah mahsyur tsb)???

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah -hafidzahullah-

    “Walaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu
    1. Ia boleh, bahkan seorang muslim wajib untuk bermakmum kepada imam yang telah ditunjuk, baik dia saleh maupun fasik. Para ulama menyatakan: Barangsiapa yang tidak mau shalat di belakang (bermakmum kepada) ahli bid’ah (karena bid’ahnya) maka dia sendiri adalah ahli bid’ah.” Maksudnya jika bid’ahnya bukan bid’ah yang mengkafirkan.
    2. Ia dibolehkan. Karena kita dituntut untuk mencari sutrah sebelum shalat, sehingga tidak ada hubungannya walaupun sutrah kita tidak bersutrah. Karena hubungan kita adalah dengannya dan bukan dengan sutrahnya.
    3. Dalam hadits Abu Said Al-Khudri secara marfu’, “Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap sesuatu yang menutupinya dari orang-orang (sutrah), lalu ada orang yang mau berlalu di antara kedua tangannya …,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Dari hadits ini dipetik pendalilan bahwa jarak yang harus dijaga oleh orang yang tidak bersutrah adalah sejarak tangannya kalau dia membentangkannya ke depan. Jadi jika dia shalat tanpa sutrah maka kita dilarang berlalu di depannya sejarak panjang tangannya. Adapun lebih dari itu maka kita boleh lewat di depannya, wallahu a’lam
    4. Insya Allah tidak ada perbedaan. Pembedaan antara masjid dan surau hanyalah di kalangan orang indonesia. Pahalanya sama, tentunya kalau sama2 berjamaah. Wallahu a’lam”

    Like

    Reply
  • 67. irwan  |  02/01/2010 at 2:51 pm

    Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuhu..

    Ustadz ana mau tanya…

    1. Bagaimana hukumnya kerja di intitusi pajak pemerintah???
    2.Bagaimana pula status gaji kita yg diperoleh dari kerja dikantor pajak itu???

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Silakan lihat jawaban ust. Dzulqarnain disertai fatwa Asy-Syaikh An-Najmi dan Al-Fauzan dalam masalah ini, di sini: http://groups.yahoo.com/group/nashihah/message/65

    Like

    Reply
  • 68. Ummu Abdurrahman  |  02/01/2010 at 8:25 am

    assalammualaikum,,

    saya sudah menikah. apakah boleh menggunakan cincin kawin?secara di islam tidak boleh menampakkan perhiasan kecuali kpdnya mahramnya.apakah perhiasan yg dimaksud berupa fisik seperti cincin ato sejenisnya atau dalam arti aurat?atau kedua2 nya?lalu mengenai salaman,bagaimana saya bisa menjelaskan secara halus kpd saudara2 yg memang jelas2 bukan mahram saya,untuk tidak bersalaman secara bersentuhan kpd mereka.terimakasih..

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah hafidzahullah :

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia, perhiasan yang dilarang untuk dinampakkan kepada selain mahram adalah semua perkara yang menarik perhatian dan bisa menimbulkan fitnah, bukan hanya terbatas pada perhiasan emas dan semacamnya. Jadi termasuk dalam perhiasan adalah pakaian yang berhias, ucapan yang lembut sehingga mengundang syahwat, dan seterusnya.
    Caranya, anti harus menghafal dalil-dalil dalam permasalahan tersebut lantas diberitahukan baik-baik dan secara perlahan. Kalau ada sebagian keluarga yang sudah mendukung atau minimal memaklumi maka mintalah bantuannya untuk berbicara agar minimal keluarga anti faham dan tidak salah faham, walaupun mereka belum bisa mengamalkannya.
    Ataukah bisa dengan menghadiahkan kepada mereka buku atau tulisan mengenai masalah itu, dengan harapan agar mereka bisa memakluminya. Wallahu a’lam

    Like

    Reply
  • 69. Deni  |  01/01/2010 at 8:54 pm

    Apa hukumnya membaca alfatihah bagi makmum ketika sholat berjamaah ?

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah hafidzhahullah :

    Yang benar dari pendapat-pendapat di kalangan ulama adalah bahwa wajib atas makmum untuk membaca Al-Fatihah berdasarkan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Ash-Shamit dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
    لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
    “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.”
    Dan hadits ini berlaku umum mencakup imam dan makmum, serta mencakup shalat jahriyah dan sirriyah. Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
    مَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَصَلاَتُهُ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ
    “Barangsiapa yang tidak membaca al-fatihah maka shalatnya kurang, tidak sempurna.”
    Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Anas dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
    أَتَقْرَؤُوْنَ خَلْفَ الْإِمَامِ وَالْإِمَامُ يَقْرَأُ ؟ فَقَالُوا: إِنَّا لَنَفْعَلُ. قَالَ: لاَ تَفْعَلُوا, لِيَقْرَأْ أَحَدُكُمْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فِي نَفْسِهِ
    “Apakah kalian membaca di belakang imam sementara imam sedang membaca? “ mereka menjawab, “Ia kami betul melakukannya.” Maka beliau bersabda, “Jangan kalian lakukan itu, tapi hendaknya salah seorang di antara kalian membaca al-fatihah dalam dirinya (yakni: secara sir, pent.).” Sanadnya hasan
    Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:
    وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا
    “Dan jika dia (imam) membaca maka diamlah kalian.”
    Maka hadits ini telah dinyatakan cacat (lemah) oleh sebagian huffazh (para ulama pakar hafalan hadits) bahwa dia adalah hadits yang syadz. Lagipula hadits ini kandungannya umum sehingga maknanya dikhususkan oleh hadits-hadits yang telah berlalu yang semuanya menunjukkan wajibnya membaca al-fatihah.

    [Diterjemah dari jawaban Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam di:
    http://www.olamayemen.com/show_fatawa13.html%5D

    Like

    Reply
  • 70. irwan  |  30/12/2009 at 8:07 pm

    Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuhu

    Ana ada beberapa pertanyaan nich Ustadz..Mohon kesediaannya untuk dijawab ya Ustadz

    1.saat Masbuq (Telat dalam Sholat) dan mendapati sedang rokaat ke-4 pada saat tahhiyyat akhir ketika mengangkat jari telunjuk bacaan yg kita baca sampai mana ustadz??? apakah juga sama seperti imam (sampai sholawat dan do’a 4 fitnah) atau bacaan cukup seperti rokaat ke-2 (sampai syahadatain)???

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah hafidzahullah:

    Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Wallahu a’lam, yang lebih tepat dalam hal ini adalah dia hanya membaca sampai syahadatain karena saat itu belum tasyahud terakhir baginya. Sementara shalawat dan doa berlindung dari 4 perkara hanya dibaca pada tasyahud terakhir. Wallahu a’lam.”

    Like

    Reply
  • 71. ibnuismail  |  25/12/2009 at 10:10 pm

    Assalamua’laikum Ust

    Ana ada pertanyaan nak di tanyakan kpd ust. Ana tinggal di Singapura. Kita diwajibkan untuk menjalani latihan askar. Dan kita tidak dibenarkan menyimpan jenggot dan memakai celana panjang. Jika kita ingkari, kita akan di tahan di penjara. Ini juga akan menyebabkan kita hilang pekerjaan dan sukar untuk mendapat pekerjaan baru kerana rekod pernah di penjarakan. Soalan ana, adakah ini di kira darurat, yg membolehkan kita memotong jenggot dan memakai celana pendek? Apa sebaiknya harus seseorang lakukan.. Mohon penjelasan ust..

    Jazakallahu Khair.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah hafidzahullah :

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Wallahu a’lam, keadaan yang antum sebutkan belum bisa dikatakan darurat karena tidak membahayakan agama, atau akal, atau nyawa, atau harta, atau kehormatan antum. Yang ana bisa nasehatkan hanyalah hendaknya antum yakin dengan sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-:
    إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَّا آتَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ
    “Sungguh, tidaklah sekali-kali kamu meniggalkan sesuatu karena takut kepada Allah ‘azza wajalla, melainkan Allah akan memberikan kepadamu kebaikan dari rasa takut tersebut.” (HR. Ahmad no. 19819)

    Dan barangsiapa yang mendapatkan rezeki dengan melanggar perintah Allah niscaya dikhawatirkan rezekinya tidak mendatangkan berkah kepadanya.

    Like

    Reply
  • 72. ryan  |  08/12/2009 at 5:43 am

    assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.

    ustadz, bagaimana cara pembagian harta menurut pandangan islam apabila terjadi perceraian?
    apakah sama dengan hukum waris?

    barokallahu fikum!

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray,
    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Tidak ada hubungannya pembagian harta perceraian dengan pembagian pada hukum waris.

    Adapun dalam perceraian tidak ada pembagian harta, bawa harta milik masing-masing. Adapun jika ada satu bentuk harta seperti mobil dan merupakan kepemilikan berdua maka jalan pembagiannya dengan musyawarah.”

    Like

    Reply
  • 73. ibnuismail  |  05/12/2009 at 2:58 am

    Assalaamu’alaikum ust,
    Ana ingin bertanya beberapa soalan berkenaan anak angkat dan ibu susuan.

    a)Apakah dibolehkan megambil anak angkat dari hasil penzinaan dimana si ibu tidak mampu menjaga anak itu?

    b)Bolehkah seorang wanita memakan pil dari doktor untuk memperbanyakkan susunya supaya ia boleh menjadi ibu susuan kepada anak angkatnya?

    c)Siapakah yang berhak atas anak yang lahir dari perzinaan, ibu kandungnya atau ibu angkat/ibu susuannya?

    Jazakallahu Khair

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Sofyan Ruray:

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Pertama: Boleh saja, tidak ada larangan, bahkan itu termasuk perbuatan ihsan dan amal shalih, apalagi si anak tdk ada hubungannya dengan dosa orang tuanya.

    Kedua: Tidak apa2, sepanjang tdk membahayakan.

    Ketiga: Ibu kandungnya yang paling berhak. Meski dari zina dia tetap ibunya yang sah, oleh karenanya dinasabkan kepadanya bukan kepada bapaknya (laki-laki yang berzina dgn ibunya).

    ada tambahan penting yang dijelaskan para Ulama untuk masalah anak angkat, hal ini banyak tdk dipahami oleh kaum muslimin:

    Pertama, hakikat ana angkat sama halnya dengan orang asing (non-mahram) dalam hukum, jadi jika dia seorang laki-laki maka dia tetap bukan mahram dan boleh menikah dengan saudari angkatnya bahkan dengan ibu angkatnya sendiri.

    Pengecualian: jika dia telah disusui oleh ibu angkatnya, maka jadilah dia mahram dan saudara sepersusuan. Adapun syaratnya: minimal 5 kali menyusu sampai dia puas/kenyang dan melepaskan sendiri susuannya.

    Kedua, anak angkat tidak boleh dinasabkan kepada bapak angkat atau keluarga angkatnya dan termasuk dosa besar apabila dinasabkan kepada selain bapaknya, kecuali jika anak hasil zina maka dinasabkan kepada ibunya.

    Dan sebaiknya dia tahu bahwa dia anak angkat sehingga dia harus menjaga batas-batas pergaulan dengan saudari dan ibu angkatnya.

    Wallahu’alam”

    ———————————————————————————————

    Berikut jawaban dari Al-Ustadz Abu Mu’awiyah

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Ia boleh, bahkan itu termasuk perbuatan yang terpuji kalau memang ibu kandungnya tidak bisa merawatnya. Hanya saja anak itu tidak akan bisa menjadi mahramnya kecuali melalui jalur syar’i, yaitu dengan disusui sehingga dia menjadi anak susuannya. Adapun keberadaan dia sebagai anak zina maka dosa ibunya tidaklah menyebabkan dia boleh diperlakukan seenaknya, karena seorang tidak menanggung dosa yang tidak dia lakukan.

    2. Boleh saja, dengan syarat pil tersebut tidak menimbulkan mudharat baginya dan tentunya harus ada izin dari suaminya.

    3. Jika ibu kandungnya bisa merawat anaknya dengan baik, baik dari sisi ekonomi maupun akhlaknya ke depan, maka tentu saja ibu kandungnya lebih berhak untuk merawat karena dia merupakan darah dagingnya sendiri.
    Demikian, wallahu Ta’ala a’lam.

    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=1778

    Like

    Reply
  • 74. yudi  |  01/12/2009 at 7:41 am

    Assalamualaikum Ana’ mau tanya apa Hukum daripada Aqiqah bolehkah melaksanakan Aqiqah ana ke Dua diHari ke 30 anak tsb.

    Syukron


    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullâh

    Pertanyaan:

    Apa makna aqiqah anak, hukumnya wajib ataukah sunnah?

    Jawaban:

    Aqiqah bagi anak yaitu sembelihan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan sebagai rasa syukur kepada-Nya atas nikmat lahirnya seorang anak yang diadakan pada hari ketujuh dari kelahirannya.

    Para ulama berbeda pendapat dalam masalah aqiqah ini, hukumnya sunnah ataukah wajib. Mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa hukumnya sunnah mu’akkad. Hingga Imam Ahmad mengatakan, “Hendaknya dia berhutang dan mengaqiqahinya.” Maksudnya: bahwa orang yang tidak memiliki harta hendaknya berhutang dan mengaqiqahi anaknya, dan Allah-lah yang akan menggantinya, sebab dia berusaha menghidupkan sunnah. Yang dimaksud dengan ucapan beliau rahimahullâh, “hendaknya dia berhutang” adalah bagi orang yang bisa diharapkan untuk melunasi hutangnya pada waktu mendatang. Adapun orang yang tidak bisa diharapkan untuk melunasinya, maka tidak sepantasnya berhutang untuk mengaqiqahi anaknya. Pendapat dari Imam Ahmad rahimahullâh ini sebagai dalil bahwa aqiqah tersebut hukumnya sunnah mu’akkad, dan memang seperti itu.

    Maka seyogyanya mengaqiqahi anak laki-laki dengan dua kambing dan anak perempuan dengan satu kambing. Hal itu dilakukan pada hari ketujuh, dimakan, dihadiahkan dan disedekahkan dagingnya. Tidak mengapa dia menyedekahkan dan mengumpulkan karib kerabat serta tetangganya untuk makan daging aqiqah tersebut dengan disertai jamuan yang lain.

    (Fatawa Ibnu ‘Utsaimin)

    Like

    Reply
  • 75. ryandi  |  19/11/2009 at 1:52 pm

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    bagaimana sanad dari hadits,

    “Sungguh akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menganggap halalnya zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik … .” (HR. Bukhari 10/51/5590-Fath).

    pada dasarnya ana yakin bahwa hadits tsb shahih.
    akan tetapi, ada yang menyebutkan bahwa sanad dari hadits tsb terputus. sehingga membuat ana terkadang menjadi ragu untuk menjadkannya hujjah.

    dan apa saja yang dapat menjadikan hadits tsb mencapai derajat shahih?

    mohon penjelasannya!

    barokallahu fikum.


    Berikut Jawaban Dari Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray :

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Sanadnya bersambung tidak terputus, hanya saja Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam shahihnya dengan TA’LIQ (tidak disebutkan sanadnya, bukan berarti terputus), namun dengan JAZM (penegasan bahwa hadits tsb shahih). Ini kebiasaan Al-Imam Al-Bukhari jika rowi tidak sesuai persyaratan beliau, namun beliau akan memberi isyarat dengan shigoh JAZM (tegas) atau tidak. Klu tegas berarti beliau menganggapnya shahih. Dan para Ulama sepakat tidak semua hadits shahih ada dalam Shohih Bukhari.

    Nah untuk melihat sanadnya bisa dalam Sunan Abu Daud.

    Cukuplah yang menshahihkan hadits sebagai hujjah: banyaknya para Ulama yang sangat ahli dalam bidang ini, sperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahumullah.

    Pembahasan detail hadits ini bisa dilihat pada kitab “Tahrimu Alatith Thorbi” karya Asy-Syaikh Al-Albani. Sudah ada terjemahannya.

    Wa fiykum baarokallah. “

    Like

    Reply
  • 76. mamat  |  20/09/2009 at 8:57 pm

    ass.

    ustd. yang saya hormati,
    saya mau bertanya, saya sudah pusing cari solusi tapi blom ada yang cocok yang bisa saya jalani.

    istri saya sudah tidak ada respek lagi sama saya, stiap perkataan saya sudah tdk digubrisnya lagi, lalu dia ingin semua pekerjaan rumah saya yang lakukan. apa yang harus saya lakukan, sedangkan saya sangat sayang dengan dia. sekarang kami telah memiliki satu anak. dan alasan itu pula yang membuat saya tidak bisa berpisah dengan dia.

    terima kasih atas jawabannya.
    wassalamu’alaikum.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiah hafidzahullah :

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Kalau antum tidak suka dengan perangainya tapi juga tidak mau berpisah dengannya, maka jalan satu-satunya adalah memperbanyak berdoa kepada Allah agar Dia berkenan memperbaiki istri antum sambil antum sedikit-sedikit dan perlahan-lahan berusaha untuk merubah sifatnya. Dalam hal ini antum bisa minta bantuan kepada kedua mertua antum atau ipar antum untuk menasehati istri antum.
    Antum bisa memberikan peringatan kepadanya dengan tahapan: Menegurnya dengan keras, tidak mengajaknya berbicara, tidak tidur bersamanya dalam satu kamar, memukulnya, memulangkan dia ke rumah ortunya untuk sementara waktu.
    Kalau sampai tahap ini juga tidak bisa, maka antum bisa melepaskan talak 1 karena pada talak satu antum masih bisa rujuk kalau dia brubah. Lalu talak 2, dan setelah talak 2 ini antum harus berpikir baik2 kalau mau melanjutkan talak 3, karena pada talak 3 ini antum tidak bisa rujuk kepadanya setelah lewat masa iddahnya.
    Yang jelas -afwan sebelumnya- tidak ada kebaikan dan keberkahan pada istri yang tidak taat kepada suaminya, dan hal itu bisa membahayakan agama antum dan anak-anak antum nantinya.

    Like

    Reply
  • 77. Nasrullah  |  16/09/2009 at 10:20 pm

    bagaimana hukum shalat secara estafet yg dilakukan seseorang yaitu makmum jadi imam apakah ada dalilnya?dan apakah dia mendapat pahala berjamaah.
    jazakumullah khair

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah hafidzahullah :

    Jika makmum masih berimam kepada seorang imam maka tidak boleh menjadikannya sebagai imam.
    Jika makmum ini adalah masbuk dan imamnya sudah salam lalu dia berdiri untuk menyempurnakan shalatnya yang kurang, maka dia boleh dijadikan imam.
    Dalilnya adalah hadits Abu Said Al-Khudri dia berkata:
    أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَصْحَابِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَصَلَّى مَعَهُ
    “Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya telah melakukan shalat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Barangsiapa ingin bersedekah kepada orang ini hendaklah dia shalat bersamanya, ” lalu berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya.” (HR. Ahmad no. 10980)

    Juga berdasarkan dalil-dalil umum akan disyariatkannya shalat berjamaah. Daripada dia shalat sendiri, maka tentunya dia lebih utama berjamaah dengan cara menjadikan seorang yang masbuk menjadi imam dan dengannya dia teranggap shalat berjamaah dan mendapatkan pahala berjamaah.
    Hanya saja jika ada dua orang yang terlambat shalat lalu mendapati seorang masbuk yang masih shalat, maka hendaknya mereka berdua berjamaah sendiri dan tidak perlu mengikut kepada yang masbuk. Wallahu a’lam.

    Like

    Reply
  • 78. jeems  |  10/09/2009 at 2:10 am

    saya mao nanya ,,,,,,,,,,,,,,,,
    semisal orang haid wktu tanggal 1,,,, terus berhenti pada tanggal 6,,,,,
    pada tanggal 9 dia haid lagi,,,,,,,,
    +++++
    apakah diwaktu tanggal 7 – 8 itu dihitung haid juga pa ga?
    trima kasih
    wassalammm,,,,,,

    Tolong pertanyaannya dilengkapi. Tidak disebutkan waktu kebiasaan haidnya jadi kami tidak bisa menjawabnya.

    Like

    Reply
  • 79. mez  |  09/09/2009 at 2:45 am

    assalamualaikum wr wb..
    klo saya sholat berjamaan cuman 2 orang…dan sya sebagai makmum,,,,,tiba2 imam saya batal di pertengahan sholat..bagaimana tindakan saya yg benar ..apakah maju 1 lngkh menggantikan posisi imam atau bagaimana???
    terimakasih
    wass…

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Apabila anda Shalat berjamaah hanya berdua (1 imam & 1 makmum), sesuai dgn keumuman hadits, :

    Dari Ibnu Abbas, dia berkata, (yang artinya) “Aku shalat bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di suatu malam, aku berdiri di samping kirinya. Lalu Nabi shalallhu ‘alaihi wa sallam memegang bagian belakang dari kepalaku dan menempatkan aku di sebelah kanannya.”
    [HR Imam Bukhari]

    Jadi apabila Imam batal shalatnya, maka anda pun tidak perlu untuk bergerak maju, karena bila hanya berdua, posisi makmum sejajar dgn imam.

    Wallahu’alam.”

    Like

    Reply
  • 80. abu 'abdirrohman  |  04/09/2009 at 10:21 am

    bismillah. afwan bagaimana perkataan yang banyak beredar lewat sms bahwa ” Malaikat jibril berdo’a kepada Alloh “Yaa Alloh jangan terima ibadah orang yang tidak melakukan 3 perkara sebelum romadhon. (1) orang yang tidak mohon maaf dan memaafkan kepada orang tua, (20 orang yang tidak mohon maaf dan memaafkan kepada suami anak istri (3) orang yang tidak mohon maaf dan memaafkan kepada sanak famili dan handai taulan

    “Wallahu a’lam kami tidak pernah mendengar hadits seperti ini. Lagipula isinya bertentangan dengan nash-nash yang menyatakan diterima tidaknya ibadah seseorang tidak ada hubungannya dengan dosa yang dia kerjakan kepada orang lain. Jika dia beribadah dan terpenuhi dua syarat diterimanya ibadah dan 3 rukun ibadah, maka insya Allah ibadahnya diterima. Adapun dosanya maka itu masalah lain. Wallahu a’lam.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=972&cpage=1#comment-839

    Like

    Reply
  • 81. Ahmad  |  25/08/2009 at 6:12 am

    Assalamu’alaikum..Adakah hal2 yang disyari’atkan saat kita menempati rumah baru di suatu wilayah yang baru pula? Seperti syukuran atau yang lainnya?

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah hafidzahullah :

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak ada ritual atau hal tertentu yang disyariatkan ketika menempati rumah baru. Hanya saja bagi siapa yang mengundang kerabat dan orang sekitarnya untuk makan-makan di rumah barunya sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala, maka insya Allah itu juga tidak mengapa karena termasuk dalam dalil-dalil umum anjuran bersyukur dengan perbuatan.
    Tapi tentunya dalam acara makan-makan itu tidak mengandung kesyirikan, bid’ah, dan maksiat.”

    Like

    Reply
  • 82. Ahmad  |  03/08/2009 at 8:07 am

    Bismillah. Ana mulai bekerja akhir bulan November 2008, dan bulan Mei kemarin Alhamdulillah sudah melangsungkan pernikahan juga. Apakah tahun ini ana sudah dikenakan kewajiban untuk berzakat? Jazakallahu khairan.

    “Kewajiban zakat dibebankan kepada setiap orang muslim yang merdeka, memiliki, dan mencapai nishab(suatu batasan pada harta sehingga wajib untuk di zakati) . Adapun penerima zakat tersebut adalah sebagaimana firman Allah ?:
    إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاِء وِاْلمَسَاكِيْنَ وَ اْلعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَ فِي الرِّقَابِ وَ الغَّارِمِيْنَ وَ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَ اْبِن السَّبِيْلِ فَرِيْضَةٌ مِنَ اللهِ وَاللَّهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ.
    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf (orang-orang yang baru masuk Islam), untuk (memerdekan) budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk di jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah: 60)

    untuk lebih detilnya mengenai Zakat silahkan lihat disini http://www.assalafy.org/mahad/?p=16

    Like

    Reply
  • 83. Ahmad  |  03/08/2009 at 8:04 am

    Bagaimana hukum seorang pemuda yang lupa/khilaf menzinai calon istrinya di hari terakhir menstruasi (calon istri masih dalam kondisi haid), padahal 7 hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan?

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah :

    “Dia telah terjatuh ke dalam dua dosa yang sangat besar: Berzina dan melakukan jima’ dengan wanita yang sedang haid. Dalam hadits Ibnu Abbas yang disebutkan oleh Al-Hafizh dalam Bulugh Al-Maram disebutkan adanya kaffarah dari orang yang jima’ dengan wanita yang haid, yaitu bersedekah dengan uang senilai 1 dinar atau 1/2 (setengah) dinar, dan 1 dinar senilai dengan 4,25 gram emas.
    Mereka berdua tidak boleh menikah kecuali dengan dua syarat:
    1. Keduanya bertaubat dengan taubatan nasuha.
    2. Jika wanitanya hamil maka harus menunggu sampai lepas iddahnya, yaitu sampai dia melahirkan, karena tidak syah pernikahan pada masa iddah.
    Kalau tidak maka rahimnya harus dinyatakan bersih dengan satu kali haid.
    Karenanya hendaknya pernikahan tersebut diundur, paling cepat diadakan pada bulan depannya setelah terbukti dia haid. Wallahu a’lam.”

    Like

    Reply
  • 84. mez  |  01/08/2009 at 12:26 pm

    assalamualaikum.wr.wb….saya mau tanya….habis mandi selesai…kita langsung wudhu..dlm poisi wudhu itu.. samasekali tdk pakai pakean …bagaimana hukum wudhu y ?terimakasih bnyk..wasalamualaikum.wr.wb

    “Waalaikumussalam warahmatullah
    Nggak masalah insya Allah, bukan syarat syah wudhu dia harus menutup aurat. Walaupun tentunya yang lebih afdhal dia berpakaian terlebih dahulu, karena bagaimanapun juga wudhu adalah ibadah kepada Allah, karenanya hendaknya seseorang bisa ‘lebih sopan’ kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=609&cpage=1#comment-837

    Like

    Reply
  • 85. mez  |  23/06/2009 at 7:48 pm

    assalamu’alaykum…klo saya dlm posisi makmum masbuk..dan posisi si imam dlm kondisi duduk tasyahud…untuk menyusul duduknya si imam.apakah setelah takbir saya harus membaca doa iftitah..atau ,setelah takbir saya lgsng duduk atahiyat sama dngn posisi si imam.klau lngsng duduk..kpn kita membaca doa iftitah y…terimakasih sekali..wa’alaykumussalam


    “Wa’alaykumussalam warohmatulloh wabarokatuh.
    Pertama, Membaca doa istiftah hukum adalah sunnah bukan wajib. Karena hadits-hadits tentang istiftah hanya datang dalam bentuk praktek dan tuntunan, bukan dalam bentuk perintah. Dan di antara kewajiban yang juga harus diperhatikan berkaitan dengan shalat berjamaah adalah kewajiban bagi makmum untuk mengikuti gerakan imam. Sehingga tidak boleh baginya untuk mendahului imam ketika ruku’, sujud, dan gerakan lainnya. Begitu pula tidak mendahuluinya ketika mengucapkan takbir dan tidak terburu-buru mengucapkan amin sebelum imam menyempurnakan bacaan Al-Fatihah. Dalilnya adalah hadits berikut,

    “Imam itu dijadikan hanyalah semata-mata agar diikuti. Apabila ia sudah takbir, bertakbirlah kamu; apabila dia ruku, rukulah kamu; apabila dia sujud, sujudlah kamu. Apabila dia shalat dengan berdiri, shalatlah kamu dengan berdiri.” (HR Bukhari)

    Wallahu’alam”

    Like

    Reply
  • 86. Adam Aminullah  |  18/06/2009 at 1:14 am

    Di Masjid … Apakah dibenarkan seorang Imam saat shalat berdiri di didepan lukisan Baitullah yg berukuran 1.2 Meter x 1.2 meter lengkap dengan gambar menara menara dan orang tawaf disekitar situ
    sementara kami orang awam tidak mengerti hal hal sperti ini…

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah hafidzahullah :

    Dalam shalat seseorang tidak boleh menghadap atau memakai semua perkara yang bisa mengganggu konsentrasinya dalam shalat, baik dia gambar bernyawa maupun bukan, baik itu di depannya maupun berupa sajadah. Hanya saja itu tidak menyebabkan shalatnya batal, tapi shalatnya makruh. Bahkan para ulama menyatakan haramnya shalat di depan gamba makhluk hidup yang bernyawa, walaupun shalatnya syah. Wallahu a’lam.”

    Like

    Reply
  • 87. dzul  |  12/06/2009 at 7:18 am

    assalamu’alaykùm warahmatullahì wa barakatuh
    —————————–

    saya Mau Nanya, pada awalnya Iman saya meningkat Ibadah Juga Meningkat. Akhir-akhir ini saya merasa Perasaan yang sangat Aneh berupa bisikan-bisikan Dimana Allah?? Apa Benar Allah Itu Tuhan?? Saya Jadi Takut, Jangan Sampai Akhir takdir saya adalah Buruk dan Kafir.

    Usaha saya adalah Mencari kajian Tauhid, tannya sama Ustadz.. tapi mereka membahas hanya masalah kesyirikan. Kalau kesyirikan saya sudah faham Ibadah hanya kepada Allah.

    saya jadi ragu apa saya beriman atau tidak sekarang ini, Rasanya semuanya menjadi Tawar, tidak semanis dulu, ibadah saya saat ini masih lancar 5 waktu di masjid, sholat sunnah, dhuha, dzikir dll. hanya masalah hati ini yang tidak menentu, seperti kehilangan Iman dan keyakinan.
    Apakah yg harus saya lakukan agar semua nya kembali Normal seperti dulu.
    Tolong tanyakan kepada Ustadz yang sangat Ahli dalam masalah Iman??

    Saya Menanti Jawaban nya..
    Jazakumullahu khairan katsiira.

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah hafidzahullah :

    “Pertama-tama kami katakan, tidak sepantasnya antum mengatakan kalau antum sudah paham kesyirikan dengan pemahaman yang betul dan lengkap, karena ucapan itu menunjukkan antum belum tahu apa-apa tentang tauhid dan kesyirikan. Jangankan kita, Nabi Muhammad sendiri masih disuruh untuk mempelajari ‘laa ilaha illallah’. Karena seorang muslim tidak boleh bosan apalagi berhenti untuk mempelajari tauhid dan kesyirikan.
    Kemudian selanjutnya, selama antum melaksanakan semua ibadah yang antum sebutkan di atas dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi, maka tidak ada perkara yang antum butuh khawatirkan. Was-was seperti itu hanyalah godaan dari setan, karenanya berlindunglah kepada Allah setiap kali was-was seperti itu muncul. Bahkan dalam sebagian hadits disebutkan bahwa was-was sepertti itu adalah tanda kuatnya keimanan. Hal itu karena semakin tinggi iman seseorang maka semakin besar was-was dan godaan dari setan.
    Karenanya antum lanjutkan saja aktifitas ibadah antum dngan tetap menjaga keikhlasan dan mutaba’ah kepada Nabi, dan tidak perlu memperhatikan was-was tersebut karena itu hanya akan mengganggu antum. Wallahul muwaffiq”

    Like

    Reply
  • 88. iin hurun'in  |  09/06/2009 at 12:43 pm

    Assalaa mu’alaikum………..
    afwan in mau nanya ne…..
    bagaimana hukumnya tentang musik???
    karna ada yang berpendapat bahwa musik itu haram???
    dan ada juga yang berpendapat bahwa musik itu boleh…..
    saya masih ragu…. boleh tidak kalo hanya mendengarkan nya saja????
    sykran…………


    “Wa’alaykumussalam warohmatulloh wabarokatuh.

    Cukuplah perkataan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut ini yg bisa membuat kita berhenti dari mendengar musik :

    1. Dari Abi ‘Amir –Abu Malik– Al Asy’ari, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :

    “Sungguh akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menganggap halalnya zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik … .” (HR. Bukhari 10/51/5590-Fath)

    2. Dari Abi Malik Al Asy’ari dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :

    “Sesungguhnya akan ada sebagian manusia dari umatku meminum khamr yang mereka namakan dengan nama-nama lain, kepala mereka bergoyang-goyang karena alat-alat musik dan penyanyi-penyanyi wanita, maka Allah benamkan mereka ke dalam perut bumi dan menjadikan sebagian mereka kera dan babi.” (HR. Bukhari dalam At Tarikh 1/1/305, Al Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain. Lihat Tahrim ‘alath Tharb oleh Syaikh Al Albani halaman 45-46)

    3. Dari ‘Imran Hushain ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

    “Akan terjadi pada umatku, lemparan batu, perubahan bentuk, dan tenggelam ke dalam bumi.” Dikatakan : “Ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kapan itu terjadi?” Beliau menjawab : “Jika telah tampak alat-alat musik, banyaknya penyanyi wanita, dan diminumnya khamr-khamr.” (Dikeluarkan oleh Tirmidzi, Ibnu Abiddunya, dan lain-lain, lihat Tahrim ‘alath Tharb halaman 63-64)

    Dan masih banyak lagi hadits2 lainnya yg menerangkan bahanya musik.

    Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmatinya- mengatakan,

    “Ketahuilah bahwa nyanyian bagaikan angin panas yang mempunyai pengaruh amat kuat dalam menebarkan bibit-bibit kemunafikan. Dan kemunafikan tersebut akan tumbuh dalam hati bagaikan tumbuhnya tanaman dengan air.”

    Warisan yang paling besar pengaruhnya akibat nyanyian adalah rasa rindu (asyik) terhadap bayangan (gambaran khayal), menganggap baik segala kekejian, dan apabila ini terus berlanjut, akan menyebabkan Al Qur’an menjadi berat di hati, bahkan menimbulkan rasa benci apabila mendengarnya secara khusus.

    Adapun pada momen atau keadaan tertentu, bernyanyi dan menggunakan alat musik tertentu memang diperkenankan. Namun demikian hal itu tidak lantas dijadikan dalil untuk membolehkan seluruh jenis alat musik pada seluruh jenis keadaan. Untuk lebih jelasnya, bisa klik disini.

    Semoga bisa menjadi bahan renungan dan bermanfaat bagi kita semua.
    Dan semoga Allah selalu memberi nikmat Nya kepada kita semua dan menjaga kita semua dari kemaksiatan.

    Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

    Like

    Reply
  • 89. nana  |  09/06/2009 at 9:39 am

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    apa hukum vaksin menginitis yg di berikan kpd jamaah haji yg ternyata pembuatannya menggukan enzim babi walaupun pd hasil pemrosesan tdk dtemukan enzim babi lagg sedangkan pemerintah arab saudi mewajibkan jamaah haji untk dsuntik vaksin ini?

    “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ala kulli hal, kalau memang enzim babi sudah larut dengan bahan lain yang halal dan sudah tidak nampak lagi bekasnya, maka insya Allah itu tidak mengapa. Ibarat setetes khamar yang dituangkan dalam segalon air putih hingga tidak ada bekasnya. Maka sebagaimana boleh meminum air galon tersebut, maka boleh juga menggunakan vaksin tersebut. Wallahu a’lam.

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah
    sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=1180&cpage=1#comment-838

    Like

    Reply
  • 90. mez  |  09/06/2009 at 4:50 am

    assalamu’alaykum
    klo seandai y saya makmum masbuk..telat 1 rakaat pd waktu sholat magrib,rekaat terakir sy harus membaca gmn?kan sy jg bareng sma rekaat ke3 nya si imam.terus rekaat ke 3 saya bc y gmn ????
    wassalam

    “Wa’alaykumussalam warohmatulloh.
    Pada raka’at terakhir anda cukup membaca S.Al-fathihah.
    Dan pada raka’at ke-3 (yang mengikuti imam), anda jg cukup membaca S.Al-Fathihah. Dikarenakan ke-umuman hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam hadits riwayat bukhari dan muslim beliau bersabda “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fathihah.”

    Wallahu Ta’ala ‘alamu bish-shawab.”

    Like

    Reply
  • 91. ummu fathimah  |  03/06/2009 at 6:58 pm

    Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu..

    Afwan, ana ada masalah dg “penyakit hati”..Sangat mudah su’udzon dan meremehkan seseorang yg pernah mencaci ana, dan dulu suka meremehkan ana dg menganggap ana “sok suci, sok alim, dn sok2 yg lain” (skrg orang tersebut sudah bersikap baik thdp ana, walaupn kadangkala sikap meremehkan itu masih ada)..
    Bagaimana cara mengatasi / menghilangkan penyakit trsebut ustadz?? sedangkan ana tau, dg masih adanya penyakit itu dapat membakar amalan2 ana..
    Jazaakallahu khoiron katsiiro

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah hafidzahullah :

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Hendaknya banyak-banyak berdoa kepada Allah agar Dia berkenan membersihkan hati-hati kita dari semua penyakit, pererat ukhuwah dengan orang yang anti remehkan itu, berikan hadiah kepadanya, dan doakan dia dengan kebaikan. Semoga dengan semua hubungan baik itu bisa sedikit demi sedikit menghilangkan penyakit hati tersebut. Wallahul muwaffiq.”

    Like

    Reply
  • 92. inhaidir  |  26/05/2009 at 3:28 pm

    Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh

    Apa ada hadits yg shahih tentang harusnya mencari sutrah ketika shalat, seseorang yg dijadikan sutrah telah pergi.mp3

    sepertinya salah link Akh

    mohon izin juga untuk menempatkan mirror downloadnya di di blog ana
    inhaidir.wordpress.com

    Barrakallahu fikh

    “Wa’alaykumussalam warohmatulloh wabarokatuh.

    JazzakAllahu khoir atas koreksinya.”

    Like

    Reply
  • 93. dodi kurniawan  |  24/05/2009 at 9:48 pm

    Assalamu’alykum warahmatullahi wa barakatuh.
    apabila seseorang dipaksa keluarganya utk mendatangi seorang Dukun,Sedangkan dia(yg disuruh) sendiri mengetahui keharaman perdukunan itu dan tdk juga membenarkan apa yg dikatan dukun tsbt.
    apakh orng itu tetap berdosa dan terjatuh kpd kesyirikan?
    Jazakumullahu Khairan Katsiran.

    “Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah hafidzahullah :

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Ia dia tetap berdosa. Hanya saja karena dia tidak membenarkan ucapan dukun tersebut maka dia tidak terjatuh ke dalam kekafiran akan tetapi dia terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan, yang hukumannya shalatnya selama 40 malam tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.
    Dari sebagian para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
    مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
    “Barangsiapa mendatangi tukang tenung lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 4137)

    Dan jika dia membenarkannya maka sungguh dia telah kafir keluar dari Islam.
    Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
    مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    “Barangsiapa mendatangi seorang dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad no. 9171)”

    Like

    Reply
  • 94. Abu Abdullah  |  22/05/2009 at 12:00 am

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Waberkatuh.

    Af 1 ,ustad ana mo tanya bagai mana cara penghitungan zakat perdaganagan yang modalnya dapat pinjam / kridit dari bank. Mana lebih dulu bayar utang / zakat .Padahal perdagangan tersebut berjalan lancar dan beromset besar.

    Ana pernah di tanya ,seorang akwat begini ; ucapan salam dari seorang perempuan kepada seorang laki 2 tidak boleh / tdk wajib karena berdasarkan hadist ;
    ” laki 2 memberi salam kepada perempuan dan perempua jangan memberi salam kepada laki 2 {HR. Ad – Dainuri }

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah :

    “Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Muqbil -rahimahumallah- berpendapat tidak adanya zakat perdagangan, karena semua dalil yang menyatakan pensyariatannya adalah lemah, dan inilah yang kami pegang.

    Karenanya keuntungan yang diperoleh dari perdagangan digabungkan dengan harta asalnya dan dikeluarkan zakat malnya. Wallahu a’lam.
    Adapun masalah utang atau zakat, maka jika tagihan utang sudah masuk sebelum waktu wajibnya zakat (haul) maka hendaknya dia membayar utangnya terlebih dahulu.
    Akan tetapi sebenarnya dalam hal ini kami merasa tidak ada masalah, kalaupun dia membayar zakatnya terlebih dahulu maka berarti hartanya hanya berkurang 2,5%, dan untuk menggenapkan kembali jumlahnya seperti semula untuk membayar utang insya Allah tidak akan membutuhkan waktu yang lama, karena antum mengatakan perdagangannya beromset besar. Wallahu a’lam

    Adapun masalah ucapan salam wanita kepada lelaki maka tetap disunnahkan dengan dalil-dalil umum yang mensyariatkan mengucapkan salam. Hanya saja pembolehan ini terikat dengan dua syarat:
    1. Si wanita tidak melembutkan suaranya, akan tetapi dia mengucapkan salam dengan tegas.
    2. Tidak timbul fitnah (syahwat) di antara mereka berdua.
    Karenanya disebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa di akhir hidupnya, Umar bin Al-Khaththab mengirim anaknya kepada Aisyah untuk mengirimkan salam dan meminta izin untuk dikuburkan di samping Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dan Abu Bakar.
    Hanya saja kami katakan: Di zaman ini, siapa yang bisa menjaga dirinya selamat dari fitnah. Karenanya hendaknya seorang lelaki tidak mengucapkan salam kepada wanita non mahramnya dan demikian pula sebaliknya, kecuali dia yakin bisa menjaga hatinya, wallahu a’lam.
    Adapun hadits yang antum sebutkan, maka kami tidak pernah mendengarnya. Mungkin antum bisa bantu dengan menyebutkan lafazh arabnya untuk membantu proses takhrij, karena kami tidak punya banyak waktu untuk mentakhrij haditsnya.”

    Like

    Reply
  • 95. herbono  |  16/05/2009 at 10:14 am

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Mohon tanya tentang fatwa-fatwa Qurais Sihab. Apakah beliau termasuk ulama ahlussunah. Ada kajiannya yg membingungkan umat, misalnya tentang hukum jilbab dan nikah beda agama. mohon pula saya diberi rujukan ttg daftar nama ulama-ulama yang kredibel dan ahlussunah. mohon dikirim ke email saya.

    Jazakumullahu khairan katsiira.

    “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Dalam tafsirnya al-mishbah, ust. Qurais mendukung akidah yang menyatakan Allah berada di mana-mana dan tidak berada di atas langit. Akidah batil ini sudah cukup untuk mengelurkan dia dari ahlussunnah.
    Alhamdulillah ulama ahlussunnah masih cukup banyak tersebar, baik di Saudi Arabia maupun di Yaman.”

    Like

    Reply
  • 96. Ahmad  |  30/04/2009 at 7:24 pm

    Bagaimana hukum seorang pemuda yang lupa/khilaf menzinai calon istrinya di hari terakhir menstruasi (calon istri masih dalam kondisi haid), padahal 7 hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan?

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Muawiah -hafidzahullah-

    “Dia telah terjatuh ke dalam dua dosa yang sangat besar: Berzina dan melakukan jima’ dengan wanita yang sedang haid. Dalam hadits Ibnu Abbas yang disebutkan oleh Al-Hafizh dalam Bulugh Al-Maram disebutkan adanya kaffarah dari orang yang jima’ dengan wanita yang haid, yaitu bersedekah dengan uang senilai 1 dinar atau 1/2 (setengah) dinar, dan 1 dinar senilai dengan 4,25 gram emas.
    Mereka berdua tidak boleh menikah kecuali dengan dua syarat:
    1. Keduanya bertaubat dengan taubatan nasuha.
    2. Jika wanitanya hamil maka harus menunggu sampai lepas iddahnya, yaitu sampai dia melahirkan, karena tidak syah pernikahan pada masa iddah.
    Kalau tidak maka rahimnya harus dinyatakan bersih dengan satu kali haid.
    Karenanya hendaknya pernikahan tersebut diundur, paling cepat diadakan pada bulan depannya setelah terbukti dia haid. Wallahu a’lam.”

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 16,515 other followers

%d bloggers like this: