Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi -shallallahu alaihi wasallam-

21/01/2010 at 6:27 am 6 comments

Sinopsis:
Perayaan Maulid Nabi  bisa dikatakan sebagai ritual tahunan yang telah dilaksanakan turun temurun, generasi ke generasi di hampir seluruh negeri kaum muslimin. Dia dijadikan lambang oleh kebanyakan mereka dari kecintaan terhadap Rasulullah Muhammad . Akan tetapi, pernahkah terbetik di dalam hati kita untuk mengadakan studi dan penelitian tentang asal muasal munculnya perayaan ini? Pernahkah kita mempertimbangkan ucapan sebagian orang yang menyatakan bid’ahnya maulid? Ataukah kita serta merta langsung menyalahkan ucapan tersebut tanpa melihat dalil-dalil dari pihak yang pro dan kontra terhadapnya? Tentunya sikap yang kedua ini bukanlah sikap yang adil bahkan merupakan kecurangan, baik dari sisi akal, terlebih lagi dari sisi syariat.

Buku yang insya Allah akan segera terbit ini, diharapkan bisa menjadi penuntun bagi setiap orang yang menginginkan kebenaran dalam masalah hukum perayaan maulid. Insya Allah akan menjadi bahan studi bagi setiap orang yang mau bersikap adil dan obyektif dalam menilai perayaan ini. Akan menjadi hujjah yang kuat bagi yang kontra terhadapnya dan akan menjadi penentang yang tegas bagi yang pro terhadapnya.

Isi buku secara umum terbagi menjadi dua bahagian besar, yaitu: Pendahuluan dan Inti Pembahasan. Dalam Pendahuluan dibahas beberapa dasar masalah penting, yang sebenarnya setiap bab dalam pendahuluan ini merupakan bantahan bagi dalil-dalil pihak yang pro kepada perayaan maulid. Sebut saja di antaranya: Taklid kepada mayoritas umat Islam, adanya bid’ah hasanah, maulid merupakan sarana untuk bershalawat dan mencintai Nabi , dan seterusnya. Adapun inti pembahasan, maka disini merupakan tempat beradu argumen antara pihak yang pro dan yang kontra, serta tempat untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil.

Kesimpulan dari bab-bab dalam inti pembahasan ini antara lain: Maulid pertama kali dirayakan oleh kelompok yang lebih kafir daripada Yahudi dan Nashara, membantah secara lengkap dan meluas 22 dalil pihak yang pro kepadanya serta 24 kemungkaran besar yang terjadi di tengah-tengah perayaan maulid, dan juga tentu saja nukilan dari sekitar 50 ulama salaf baik yang dahulu maupun yang belakangan yang memvonis perayaan ini sebagai amalan yang melenceng dari tuntunan Rasulullah .

Keterangan Buku:
Judul: Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi 
Penulis: Abu Muawiah Hammad bin Amir Al-Makassari
Editor: Ust. Abu Faizah Abdul Qadir Lc
Setting & Lay Out: Abu Aliyah
Desain Sampul: Abu Yahya At-Tambuni
Penerbit: Al-Maktabah Al-Atsariyyah
Cetakan: I, Jumad Ats-Tsani 1418 H/Agustus 2007
II, Shafar 1431 H/Januari 2010
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: 244 Halaman
Harga: Rp.40.000,-

Daftar Isi:
Bagian Pertama: Pendahuluan yang terdiri dari delapan bab sebagai berikut:
1. Bab Pertama: Wajibnya Mengembalikan Semua Perkara yang Diperselisihkan Kepada Al-Kitab dan As-Sunnah Sesuai dengan Pemahaman Para Ulama As-Salaf
a.    Dalil Naqli
b.    Dalil Ijma
c.    Dalil Akal
d.    Syubhat dan Bantahannya.

2. Bab Kedua: Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah
a.    Kesempurnaan Islam
b.    Syarh Definisi Bid’ah
c.    Dalil-dalil Tercelanya Bid’ah serta Akibat Buruk yang Akan Menimpa Pelakunya
d.    Perkataan Para Ulama Salaf dalam Mencela Bid’ah

3. Bab Ketiga: Tidak Ada Bid’ah Hasanah dalam Islam
a.    Dalil-dalil Tercelanya Semua Bentuk Bid’ah
b.    Tujuh Syubhat Para Penyeru Bid’ah Hasanah serta Bantahannya

4. Bab Keempat: Syarat Diterimanya Amalan
a.    Syarat Pertama: Pemurnian Keikhlasan
b.    Syarat Kedua: Pemurnian Ittiba`

5. Bab Kelima: Terlarangnya Taqlid Dalam Agama
a.    Definisi Taqlid
b.    Pembagian dan Hukum Taqlid
c.    Perkataan Imam Empat dalam Melarang Taqlid

6. Bab Keenam: Haramnya Tasyabbuh Kepada Orang-Orang Kafir
a.    Definisi dan Bentuk-bentuk Tasyabbuh.
b.    Hukum Tasyabbuh
c.    Hikmah Diharamkannya Tasyabbuh
d.    Dalil-dalil Umum Pengharaman Tasyabbuh
e.    Dalil-dalil Khusus Pengharaman Tasyabbuh

7. Bab Ketujuh: Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-
a.    Hakikat Kecintaan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-
b.    Tanda-tanda Kecintaan kepada Beliau.
c.    Beberapa Kisah Sahabat Seputar Kecintaan Mereka kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-

8. Bab Kedelapan: Tuntunan Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- Dalam Bersholawat
a.    Tafsir Ayat Shalawat (Al-Ahzab: 56)
b.    Keutamaan Shalawat dan Taslim.
c.    Kaifiat Shalawat dan Taslim
d.    Waktu dan Tempat Disyariatkan Membaca Shalawat dan Taslim.
e.    Beberapa Contoh Shalawat Bid’ah (Badar, Nariyah, Qashidah Al-Burdah, Maulidul Barzanji, dan dua shalawat lainnya)

Bagian Kedua : Inti Pembahasan, yang terdiri dari enam bab, yaitu:
9. Bab Kesembilan: Definisi dan Sejarah Munculnya Perayaan Maulid
a.    Definisi Maulid
b.    Perselisihan Ulama Tentang Hari Lahirnya Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-
c.    Yang Pertama Kali Merayakannya.
d.    Sekilas tentang Al-Bathiniyah, Sebagai Pencetus Perayaan Maulid.

10. Bab Kesepuluh: Penetapan bahwa Orang-Orang yang Merayakan Maulid Menganggap Perayaaan Itu Bagian dari Agama

11. Bab Kesebelas: Syubhat dan Argumen yang Dijadikan Sandaran oleh Orang-Orang yang Membolehkan Maulid Beserta Bantahannya
22 dalil yang sering dipakai untuk membolehkan perayaan maulid lengkap dengan bantahannya satu persatu.

12. Bab Keduabelas: Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid
a.    Bentuk-bentuk Perayaan Maulid
b.    18 Dosa Besar dalam Perayaan Maulid -dari sisi aqidah dan yang lainnya- serta bantahannya.

13. Bab Ketiga belas: Perkataan dan Fatwa Para Ulama Tentang Bid’ahnya Perayaan Maulid
a.    Perkataan 53 Ulama Salaf (Terdahulu dan Zaman ini) Akan Bid’ahnya Perayaan Maulid.
b.    Apakah Para Ulama Mengkafirkan Para Pelaku Maulid?

14. Bab Keempat belas: Kumpulan Fatwa Seputar Perayaan Maulid
Fatwa Para Ulama Seputar Beberapa Kejadian Dalam Perayaan Maulid (Hukum menghadiri, menyumbang uang, menerima dan memakan makanannya, hukum orang yang membelanya, sikap terhadap perayaannya, dan selainnya)

Bagian Ketiga : Penutup

Sirkulasi dan Peragenan:
Bagi yang berminat membeli (on line) atau menjadi agen penjualan buku ini, silakan menghubungi:
HP: 0813 5544 1994 atau (021) 937 55 664
Email: abumuawiah@yahoo.com atau atsariyyah_06@yahoo.co.id atau attambuny@gmail.com
YM: abumuawiah@yahoo.com (jika online) dan jika tidak online maka silakan meninggalkan pesan offline.
Atau melalui kolom komentar pada artikel ini.

Entry filed under: Aqidah, Bid'ah, Kajian Kitab. Tags: , , , , .

Kecemburuan Yang Harus Ada Dalam Diri Seseorang Al-Qur’an Sebagai Obat Penyakit Hati Dari Berbagai Penyakit

6 Comments Add your own

  • 1. Romi Irwandani  |  17/02/2011 at 4:07 pm

    Assalamu ‘Alaikum

    Saya beminat membeli buku tersebut,bagaimana cara pembayaranya & pengirimanya,saya berdomisili di saudi arabia
    Alamat lengkap saya:
    Abdul Latif Jameel Co.Ltd (Toyota Saudi Arabia)
    Hafar Al Batin Center
    Kuwait Street
    Po. Box 3131 Zip Code: 31991
    Hafar Al Batin – K.S.A

    Like

    Reply
  • 2. Romi Irwandani  |  12/02/2011 at 10:32 pm

    Assalamu’alaikum wa rahmatullohi wa barokatuh…
    saya berada di saudi arabia,klo mau beli online bagaimana caranya & pembayarannya melalui rekening mana..?

    Like

    Reply
  • 3. Alan Syeba  |  29/09/2010 at 10:17 pm

    Assalamu’alikum Wr.Wb.
    Astagfirullahal adzhim..
    Rasulullah SAW adalah makhluk Allah yang paling bijaksana dalam dakwahnya,..tidak pernah menyakiti hati orang yang didakwahinya,selalu menjaga perasaan hati…itu adab dan akhlak yang kita teladani dan kita gali…hendaknya dalam melontarkan nash dan logika tidaklah sekali-kali nafsu kita untuk menunggagi nash tersebut sehinga menimbulkan rasa diri akulah yang paling benar, padahal rasulullah ketika berdakwah menceritakan sesuatu kepada sahabat-sahabat beliau mereka merasa seolah-olah ada didalamnya apakah itu tentang kesalahn atau kebenran(neraka&surga) ayat & hadits adalah cahaya yang membawa ketenangan jiwa(nur) yang terjadi sekarang malah menjadi nar, perdebatan.,permusuhan.pertanyaan dimanakah letak kekeliruan semua ini ? nash dalil ataukah yang menggunakan dalil ? semua golongan, kelompok mengaku ahlu sunnah wal jamaa’ah mereka tidak rela dikatakan bukan ahlussunnah.sedangkan maksud rasulullah tentang ahlus sunnah wal jama’ah belum sempurna kita jalani. rasulullah SAW adalah makhluk Allah yang paling benar dan maksum, akan tetapi beliau tetap meminta ampun, seolah-olah beliau bersalah, tapi itulah teladan bagi umat supaya mau menggali maksud semua ini. bukan saling menyalahkan….kalian semua punya dalil & nash. lana ‘a’maluna lakum a’malukum. berdirilah ditengah dengan bijaksana dengan penuh adab seperti rasulullah SAW contohkan..galilah kebijaksanaan rasulullah SAW smpai kalian menjadi orang yang adil dan bijaksana..akhirnya kita kembali dengan ketawadhuan hati kita. maka yang benar berdakwah karena Allah dan rasull-Nya bukan karena yang lainnya akan selalu istiqomah dan yang bathil baik cara dalam dakwahnya akan terhenti dikarenakan bukan karena Allah dan Rasul-Nya. bukankah fitnah dajjal dan prilaku dajjal adalah mengaku dirinya paling benar (bermata satu) maka saya pribadi dan kalian semua berlindung kpd Allah dari fitnah dajjal. bersitigfar dan bershalawat karena itulah yang sekarang dan selamanya yang hati dan jasmani kita lakukan agar dpat mencapai taqwa. tafakkurlah dan berbuatlah kita untuk dapat pengakuan orang yang benar dihadirat Allah SWT dan Rasul-Nya bukan dihadapan manusia.letakkan nafsu kita sesudah Allah dan Rasul-Nya bukan sebaliknya. wassalamu’alaikum Wr.Wb


    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,

    Maaf saja tapi menurut kami anda belum bisa berkomentar seenaknya dan menasehati dengan nasehat yang menurut anda paling bijaksana sebelum anda mengetahui alasan mereka yang mengkritisi perayaan maulid dan apa jawaban mereka terhadap mereka yang membolehkannya.
    Lagipula mana bukti kecintaan anda kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam pada ucapan anda di atas. Anda menyebutkan nama ‘Rasulullah’ dan anda sekalipun tidak pernah bershalawat kepada beliau kecuali dengan singkatan, bukankah shalawat itu doa untuk Nabi shallallahu alaihi wasallam? Kenapa anda begitu pelit kepada beliau sampai doa untuk beliaupun anda singkat sehingga menjadi bukan doa (SAW).

    Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah

    Sumber : http://al-atsariyyah.com/tanpa-kategori/studi-kritis-perayaan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam.html/comment-page-1#comment-3115

    Like

    Reply
  • 4. Alianoor  |  11/05/2010 at 12:39 pm

    Assalamu’alaikum.wr.Wb.
    saya berminat membeli buku tersebut, mohon bgm cara pembeliannya ?
    Wassalam,
    Alianoor, Muara Teweh, Kalteng

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,

    Bagi yang berminat membeli (on line) atau menjadi agen penjualan buku ini, silakan menghubungi:
    HP: 0813 5544 1994 atau (021) 937 55 664
    Email: abumuawiah@yahoo.com atau atsariyyah_06@yahoo.co.id atau attambuny@gmail.com
    YM: abumuawiah@yahoo.com (jika online) dan jika tidak online maka silakan meninggalkan pesan offline.

    Anda bisa langsung menghubungi penulisnya dengan nomer kontak diatas.”

    Like

    Reply
  • 5. ayef  |  09/02/2010 at 4:33 pm

    Assallamualailum ana mau tanya bacaan untuk menyebeleh hewan, kurban dan aqikah mohon di bantu,
    Habib dan Ustad

    trimakasih
    ayef


    “wa’alaykumussalam warahmatullah,

    Bacaan untuk menyembelih hewan, baik untuk kurban atau aqiqah/nasiqah, cukup dengan membaca “bismillah“. Seperti dalam Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala :

    فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ
    “Maka makanlah binatang-binatang sembelihan yang dibacakan nama Allah atasnya (saat menyembelihnya).” (Al-An’am: 118)

    2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
    “Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang sembelihan yang tidak dibacakan nama Allah atasnya, karena sesungguhnya hal itu adalah kefasikan.” (Al-An’am: 121)

    3. Hadits Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلُوا مَا لَمْ يَكُنْ سِنًّا أَوْ ظُفْرًا، أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ
    “Alat apa saja yang mengalirkan darah (binatang sembelihan) dan dibacakan nama Allah atasnya maka makanlah (sembelihan itu), selama alat itu bukan gigi atau kuku. Adapun gigi, karena gigi adalah tulang. Sedangkan kuku adalah pisau orang Habasyah.” (HR. Al-Bukhari no. 5509 dan Muslim no. 1968)

    Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa binatang yang halal untuk dimakan adalah yang disembelih dengan membaca tasmiyah atasnya, dan bahwa binatang yang disembelih tanpa membaca tasmiyah atasnya adalah haram untuk dimakan, dan memakannya adalah kefasikan, tanpa membedakan apakah tidak membaca tasmiyah dengan sengaja atau tidak sengaja. Wallahu ta’ala ‘alam.

    Sumber : http://www.asysyariah.com/syariah.php?id_online=684&menu=detil

    Like

    Reply
  • […] This post was mentioned on Twitter by Problema Muslim, abu hasan. abu hasan said: Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi -shallallahu alaihi wasallam-: Baca Sinopsis, Klik Disini! http://bit.ly/785B1d […]

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menu Utama

Menjawab Problema Kaum Muslimin

Masukkan E-Mail anda pada kotak isian dibawah ini untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan posting baru melalui email.

Join 16,599 other followers

Ikuti Perbaruan Kami!

Mutiara Perkataan Ahlul Ilmi

Image and video hosting by TinyPic

Categories

Total Kunjungan

  • 440,407 Clicks Sejak Januari 2009

Didukung Oleh

Documents

%d bloggers like this: